Practice Makes Perfect!

Kalimat di atas sudah pasti sangat tidak asing di telinga kita. Kalimat ini saya temukan pertama kali di bagian bawah buku tulis “Sinar Dunia” saat saya masih SD. Pada waktu itu saya belum belajar berbahasa Inggris, sehingga saya bertanya-tanya akan maksud kalimat itu.

Kalimat  yang berarti Berlatih Membuatmu Sempurna ini kerap menjadi motivator saat kita mempelajari sesuatu. Berlatih adalah upaya untuk membiasakan kinerja tubuh kita agar mahir dalam melakukan sesuatu. Kita semua dianugerahi bakat, tapi kita perlu melatihnya. Tubuh ini tidak dirancang untuk siap pakai. Dia harus dibiasakan melakukan sesuatu sesuai yang diinginkan manusia. Misalnya, menunggang sepeda, berbahasa, bermain piano, mempelajari coding, bercocok tanam, dsb. Terkadang kita mandeg dalam usaha mencapai keinginan, mungkin penyebabnya adalah kita sering lupa untuk berlatih. Nah, karena saya bermusik maka saya ingin membagikan pengalaman saya dalam berlatih di bidang musik…

Saya akan ambil contoh pengalaman dalam berlatih menguasai instrumen. Misalkan, piano. Orang yang belum pernah bermain piano tentu akan asing dengan tuts dan penjarian. Latihan teknik dasar sangat diperlukan agar dapat membiasakan diri dengan suasana berpiano dan mencari kenyamanan dalam menekan tuts. Tahap latihan teknik dasar adalah fase yang harus dilewati oleh pianis. Tahap ini seperti membangun fondasi; jika tidak kuat maka apa yang dibangun selanjutnya akan mudah rubuh.

Namun kenyataannya latihan teknik dasar adalah latihan yang paling membosankan. Tidak hanya bermusik, di dalam seluruh kegiatan kehidupan fase ini sangat membosankan. Bagaimana tidak, menekan tuts untuk mencari warna suara yang enak itu tidak mudah. Berlatih penjarian bolak-balik di semua register itu membuat tubuh mudah lelah. Akhirnya kebanyakan orang memutuskan untuk berlatih selain teknik dasar atau berhenti karena merasa bosan.

Apakah berlatih = membosankan?

Saya pernah berada di posisi itu, bahkan sampai sekarang. Semua ilmu menekankan latihan, tetapi kebanyakan orang terjebak hanya pada latihan teknik, terutama latihan motorik. Dari semua latihan motorik yang dilakukan, kalau dirasakan hanya sebagian saja yang berupa latihan berkualitas. Nah bagaimana siasat untuk menghindari kebosanan?

Hindari latihan jika suasana hati tidak enak. Kalau masih mampu untuk membangun mood, lakukanlah karena itu bagus. Tapi kalau tidak, jangan memaksakan untuk berlatih. Teknik menurut saya tidak melulu berupa latihan motorik. Merasakan apa yang sudah dilatih, mengapresiasi karya seni, berdiskusi dengan teman sepermainan, dan bahkan berhenti itu adalah teknik. Berhenti adalah teknik yang sangat baik untuk menyeimbangkan siklus tubuh dari otot dan syaraf yang tegang penyebab stress menjadi santai. Berhenti juga berguna untuk melatih keterampilan lain.

Mark Levine dalam buku “The Jazz and Theory Book” (1995: 248) membagikan aspek cara berlatih dalam mendalami musik. Cara itu adalah Aural (bagaimana musik berbunyi), Theoretical (bagaimana kamu mengerti musik), Tactile (bagaimana rasanya musik), dan Visual (bagaimana musik terlihat).

Dan menurut saya, berlatih adalah bentuk ungkapan syukur kita atas bakat atau kemampuan default yang diberikan Tuhan kepada kita.

Practice makes perfect!

😀

Advertisements

#JAZZ

Dextergordon1948

(gambar diambil dari : ickmusic.com)

Suatu hari saya sedang di kampus untuk bertemu dosen. Ketika selesai urusan saya bertemu dengan teman saya dan dia menyapa, “Hai, Jazzer!” dengan nada sedikit menyindir. Di waktu yang lain saya sedang di Bandung dalam sesi istirahat sebelum bermain di World Jazz Festival. Tiba-tiba saya mendapatkan telepon dari seorang wartawan yang ingin mewawancarai komunitas jazz jogja. Saya adalah salah satunya. Pertanyaan yang muncul seperti, “Bagaimana tanggapan Anda tentang musik Jazz yang dianggap mewah dan eksklusif?” mengganggu telinga saya. Di kesempatan yang lain ketika saya ingin bermain di acara kampus ada seorang teman dan dosen pula yang berkomentar, “Wah, mesti Jazz iki!” atau “Sangar kowe yo lik!” dan saya menanggapinya dengan, “Ah, biasa wae.”

Saya capek mendengar itu semua. Ini bukan era dekade ’50-an di mana orang-orang masih memperdebatkan istilah Jazz dan mengotak-kotakkan musik…

Saat ini teknologi informasi berkembang sangat pesat, hingga sering kita merasa informasi bergerak lebih cepat daripada manusia itu sendiri. Tak terkecuali informasi tentang musik, salah satunya Jazz. Informasi yang berkembang sangat cepat dengan didukung masyarakat yang mudah mempunyai atau mengakses gadget seharusnya dapat memberikan wawasan tentang apa yang ingin dicari. Apalagi, Twitter dan Facebook semestinya dapat digunakan untuk mencari informasi tentang Jazz, tidak hanya menjadi media untuk sekedar meng-eksis-kan diri.

Cerita yang saya hadirkan di muka mestinya tidak terjadi kalau mereka dianugerahi melek huruf dan mampu mengakses informasi dari buku dan dunia maya, apalagi dapat berinteraksi dengan seniman musisi.

Saya tidak akan bercerita tentang sejarah Jazz, namun saya akan ceritakan fakta berikut ini. Bagi beberapa musisi, sudah sejak awal ketika Jazz lahir, istilah Jazz tidak pernah menjadi bahan perdebatan alias hanya sekedar tempelan. Namun lain halnya dengan musisi yang lain, musikolog, dan pihak industri rekaman yang begitu antusias ingin mengidentifikasi dan akhirnya tanpa disadari mengotakkan Jazz. Hasil yang nyata atas “kotak” itu adalah musik Jazz tidak lagi dilihat sebagai kesenian yang menyeluruh. Hanya istilah “Jazz” yang sekilas tampak sangar dan improvisasi (elemen penting Jazz) yang dilihat sebagai “ajang adu skill

Pernah terjadi obrolan antara saya dan mas Purwanto, seorang seniman musisi Jawa. Kami membahas Karawitan dan Jazz yang sebenarnya sama-sama “nge-jazz.” Kehadiran improvisasi baik di Karawitan maupun Jazz adalah sebuah keadaan yang alami (natural) sesuai karakter orang Afrika-Amerika dan orang Jawa yang hidupnya penuh improvisasi. Bahkan menurut saya, karakter improvisasi itu ada di hampir seluruh masyarakat Indonesia asli. Saya mengatakan “asli” untuk membedakan orang yang cinta pada budayanya dan selalu membawa itu sebagai identitasnya dibandingkan yang tidak. Ini membuktikan bahwa improvisasi bukan hal yang rumit; sesuatu yang alami. Kita malah membutuhkan improvisasi dalam hidup untuk mengatasi kejadian-kejadian yang tidak dapat kita duga demi mempertahankan hidup.

Improvisasi itu bukan berbicara tentang sesuatu yang rumit…

Nah, Jazz memang lahir di ruangan bawah tanah, kemudian hidup di Cafe remang-remang penuh asap rokok. Ketika budaya, musik beserta dialeknya itu, dibawa ke Indonesia, Jazz akan terasa amat mewah. Benturan budaya terjadi. Jika tidak disikapi dengan bijaksana, salah satu falsafah Jawa “wang-sinawang” berlaku. Orang Indonesia akan menganggapnya demikian. Pernahkah berpikir bahwa orang luar negeri menganggap Karawitan itu mewah dan agung? Pernahkah berpikir bahwa mereka menganggap bahasa Indonesia itu terdengar seksi?

Jazz itu bahasa, jadi tidak semata-mata membicarakan keterampilan bermusik. Tidak juga membicarakan kerumitan nada, apalagi tentang kemewahan.

Saya tidak sedang menyimpulkan suatu masalah. Ini adalah bahan renungan bagi kita semua dalam memandang bunyi sebagai ciptaan Tuhan (bagi yang percaya Tuhan) dan di mana bunyi itu lahir.

Atau jangan-jangan hidup Anda yang lebih rumit daripada Jazz itu sendiri? 😀