Komponis, Arranger, dan Pemain

Komponis adalah seseorang atau sekumpulan orang yang menyusun atau menggubah bebunyian menjadi susunan yang baru berupa komposisi musik, sedangkan arranger adalah seseorang atau sekumpulan orang yang menggubah komposisi musik yang sudah ada menjadi bentuk yang baru. Komponis maupun arranger mempunyai cara yang berbeda-beda, ada banyak faktor yang mempengaruhi di antaranya tempat dibuatnya komposisi, budaya, selera, sumber daya manusia, dsb.

Nah, kalau komposisi adalah satu paket bebunyian yang telah disusun oleh komponis atau arranger, pemain berfungsi sebagai rekomposisi. Kenapa rekomposisi? Komposisi yang sudah ada masih berupa dunia ide, jadi tidak akan berwujud komposisi kalau tidak dimainkan. Sebagus apapun ide komposisinya jika tidak disajikan oleh pemain yang cocok dengan komposisinya maka komposisi akan terdengar jelek, aneh, tidak rapi, dsb.

Pemain bertugas “meneruskan” ide yang telah diwujudkan si komponis atau arranger, baik itu ide makna komposisi, ide bebunyian, ide bentuk, dll. Pemain berhak memberikan masukan dan mengkritik, namun keputusan tetap di tangan komponis atau arranger sesuai kesepakatan.

Kita lihat seakan-akan posisi komponis maupun arranger terlihat lebih spesial dibandingkan pemain. Apakah itu adil bagi pemain yang berfungsi “hanya” sebagai rekomposer? Di dunia ini tentunya semua makhluk mempunyai kelebihan dan kekurangan, begitu juga komponis, arranger, maupun pemain.

Kalau kita berbicara seni musik, yang kita bicarakan pertama kali adalah komposisi musiknya. Komposisi memiliki peranan yang sangat spesial karena hal ini yang pertama kali dibahas. Namun, komposisi yang tidak di-rekomposisi tidak ubahnya hanyalah dunia ide. Di sinilah peran pemain bekerja.

Jika dilakukan dengan baik hal ini akan menimbulkan sikap saling menghormati di antara komponis, arranger, dan pemain. Sama-sama saling membutuhkan, tidak ada yang paling spesial dan yang tidak spesial; komponis membutuhkan pemain untuk menyajikan komposisinya, sedangkan pemain membutuhkan komposisi si komponis untuk selalu mengaktualisasi diri sebagai pemain. Tidaklah mudah untuk membuat komposisi dan tidaklah mudah untuk menyajikan komposisi.

Sikap saling menghormati di antara komponis, arranger, dan pemain jelas akan menguntungkan semua pihak karena semuanya mendapatkan ilmu baru (baca: aktualisasi diri). Komponis dan arranger akan memperoleh kemudahan bagaimana meneruskan ide kepada pemain, sedangkan pemain memperoleh ilmu bagaimana menyajikan komposisi sesuai dengan maksud komponis atau arranger. Kalau dilakukan sesuai dengan fungsinya masing-masing, tentunya akan menjadi adil bagi semua pihak, bukan?

Advertisements