"Surga Dunia"

Fb_img_135676740738528

sumber: dokumentasi oleh @tey_saja

“Ayo kita ke surga dunia,” ajak Tey ketika malam minggu terakhir di 2012 menghampiri. Tentu saja penuhi ajakannya dengan suka cita. “Surga dunia,” begitulah dia menyebut toko buku. Ketika sampai di “surga dunia,” hujan lebat datang tanpa memberi kabar sebelumnya. Lalu kami terjebak di sana dan godaan membeli banyak sekali buku menjadi tak tertahankan.

Tiba-tiba ingatan saya melayang ke tiga tahun yang lalu.

Saya tidak sengaja bertemu dengan @erwinzubiyan di kediaman alm. Pak Tari Pradeksa. Kami mengobrol tentang apa saja. Kemudian pembicaraan mengarah ke buku. Baru saya tahu kalau dia senang membaca buku. Ujarnya, setiap hari dia paling tidak membawa satu buku di tasnya. Jadi, kalau senggang ketika bepergian buku itu akan menemaninya.

Saya sangat bersemangat mendengarkan ceritanya, hingga membangkitkan hasrat membaca saya tiba-tiba. Mengapa tiba-tiba? Karena hasrat membaca saya sudah lama hilang selama tujuh tahun. Kurikulum dan bentuk pendidikan di SMP dan SMA membuat saya kehilangan semangat membaca buku.

Erwin menyodorkan saya buku untuk saya pinjam. Judulnya Menolak Menyerah; Menyingkap Tabir Keluarga Aidit. (Eh, saya baru ingat kalau buku ini belum dikembalikan. Kita sebaiknya ketemuan, Win. Hihihihi)

Beberapa bulan kemudian, di tempat yang sama, saya bertemu dengan Pak @Octa_ayahbening. Semangat membaca saya semakin bertambah ketika dia bercerita tentang dia dan teman sekantornya yang menyimpan buku-buku fiksi sejarah. Mereka sering berdiskusi tentang filosofi kehidupan (terutama orang Jawa), sejarah Singosari dan Majapahit, dan ilmu bela diri Jawa.

Pembicaraan ini membuat rasa penasaran saya tak tertahankan. Akhirnya saya meminjam 2 seri buku tebal berjudul Senopati Pamungkas.

Pertemuan saya dengan kedua orang ini menginspirasi saya, bahwa dengan membaca buku wawasan kita akan semakin bertambah dan sudut pandang akan menjadi lebar. (Ini bukan kalimat klise). Saya menjadi gemar ke toko buku. Perkenalan saya dengan Tey makin menambah jadi kegemaran ini. Laiknya dalam pencarian kesenangan dan inspirasi, toko buku itu seperti cafe; tempat nongkrong yang menyenangkan.

Ngomong-ngomong, sebagai musisi, saya tak pernah kehilangan waktu ketika kegiatan membaca buku terkadang menggantikan kegiatan berlatih musik. Sebab, pengetahuan apapun yang kita serap akan sangat berguna dalam kehidupan berkesenian (apabila pengetahuan diolah dengan baik). Menurut penelitian, sel-sel otak kita (yang belum saling terhubung) akan terhubung satu sama lain setiap kita mempelajari sesuatu yang baru. Akibatnya, memori lama antara satu dengan lainnya dapat dihubungkan dan diolah menjadi informasi baru. Ini berlaku bagi semua orang, tak terkecuali musisi.

Membaca buku sama pentingnya dengan berlatih musik. Buku yang dibaca pun tak melulu tentang musik. Saya menyukai buku-buku berbau konspirasi, novel fiksi sejarah, dan buku puisi. Kalau buku kesenangan kalian apa, teman-teman? *emoticon smile*

Beranilah belajar, mulailah membaca. Ilmu adalah salah satu rezeki. Tuhan adalah sumber ilmu dan kita diberi akal untuk menggapai rezeki-Nya.

Iqra’. Bismirabbikalladzii khalaq. (Bacalah. Dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakan). (Al ‘Alaq: 1-2)

Masih terjebak hujan, saya menikmati diskusi dengan Tey sambil melihat berbagai buku yang terhampar di “surga dunia.” Saya bersyukur. Hasrat membaca saya terpelihara.

Advertisements