Pengalaman Nge-band Dengan Pemain Marching Band

Rabu pagi, 27 Feb 2013, Jay & Gatra Wardaya tampil mengisi acara Black American Women Civil Rights Pioneers di Mini Theatre Gedung D Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Namun, kali ini sajian kami berbeda. Pemain tuba dari Drum Corps UMY, Maman Surahman, ikut berkolaborasi.

Kami tampil dengan formasi Wiwit Yulian (keyboard), Diwa Hutomo (vocal), Victor Prabowo (bass), Maman Surahman (tuba), dan saya sendiri (tenor saxophone). Tidak ada halangan yang berarti saat tampil. Justru yang menarik malah pada saat proses kami berlatih.

Saya tahu dari Tey kalau pemain tiup di drum corps atau marching band (MB) kebanyakan bermain dengan nada dasar do = B♭ atau do = F, tergantung instrumen yang biasa dimainkan. Sedangkan di lingkungan saya dan teman-teman di kampus dan lingkungan band-band-an, kami “dituntut” untuk dapat bermain di semua nada dasar.

Sebagai contoh kasus, kami berlatih komposisi Bob Thiele dan George David Weiss What a Wonderful World dengan nada dasar do = F. Berhubung Maman hanya bisa berkomunikasi dengan do = B♭, maka saya dan Wiwit menentukan panduan agar mudah dipelajari.

Caranya? Begini. *siapin bolpen dan kertas*

(Pertama-tama, kata kuncinya adalah Tangga Nada (TN) dan do re mi fa sol la si (solmisasi).)

TN do = Bb —> b♭  c  d  e♭  f  g  a —> do re mi fa sol la si

Do-nya = b♭, maka re-nya = c. Begitu juga dengan fa = e♭ dan sol = f. Lalu,

TN do = F   —> f  g  a  b♭  c  d  e —> do re mi fa sol la si

Do-nya = f, maka re-nya = g. Begitu juga dengan fa = b♭ dan sol = c.

Nah, permasalahannya adalah penyebutan do di TN do = F tidak akan sama dengan do di TN do = B♭. Jadi, solmisasinya harus diterjemahkan ke dalam bahasa do = B♭. Hasil solmisasinya adalah :

TN do = F —> f g a b♭ c d e —> sol la si do re mi fi

Kabooomm! Jadilah solmisasi di atas yang akhirnya kami pakai dalam berkomunikasi. Saya dan Wiwit mencatat solmisasi supaya mudah dibaca oleh Maman.

Cara di atas berguna dalam memecahkan masalah komunikasi nge-band dengan pemain MB. Sebelum bermain dengan Maman, saya juga pernah bermain dengan Erson Padapiran beberapa tahun yang lalu menggunakan cara berkomunikasi yang sama, dengan dibantu oleh Harli Arbian (pemain trumpet juga, dulunya pemain MB UGM dan nge-band selama setahun lebih dengan saya).

Cara di atas mungkin hanya salah satu dari berbagai cara. Apakah Anda punya pendapat lain?

😀

Advertisements

“Memanggil” Ide dengan Santai & Berkonsentrasi

Dalam menciptakan komposisi, ide merupakan hal yang sangat penting. Sebagus apapun eksekusi pemain takkan menunjang komposisi jika idenya tidak menarik. Itulah mengapa ide merupakan hal yang paling dicari sebelum membuat komposisi.

Tiada kiat khusus dalam mendapatkan ide. Karena secara bawah sadar ide bisa datang kapan saja dan di mana saja, kita jarang bisa siap mengabadikan ide tersebut, entah itu ke dalam ingatan yang baik, tulisan, maupun rekaman sederhana.

Namun menurut pengalaman saya, ide itu bisa “dipanggil” secara sadar. Caranya, santai dan berkonsentrasi. Pertama, pikiran dan tubuh harus dalam keadaan santai (dalam keadaan nol; tidak gembira dan tidak sedih). Setelah santai, berkonsentrasilah (memusatkan perhatian) pada apa yang ingin dikerjakan. Pada saat tersebut, ide akan muncul dengan sendirinya, yang sebenarnya kitalah yang “memanggil” ide tersebut.

Mencapai keadaan santai hingga mampu berkonsentrasi bisa dicapai salah satunya dengan mengonsumsi cokelat. Cokelatnya bisa macam-macam, sesuai dengan selera Anda.

Bagi saya, Cokelat nDalem adalah favorit saya. Berbagai rasa ditawarkan sehingga mampu memanjakan saya. Ada rasa Sereh, kayu Manis, Mint, Jahe, Cabai, Cengkeh, Dark Chocolate, dan Extra Dark Chocolate.

Teman-teman bisa “memanggil” ide dengan cara yang saya lakukan di atas. Atau bisa juga dengan cara lain, sesuai kebiasaan atau selera masing-masing. Selamat mencoba! 😀