Jay & Gatra Wardaya: #MusikPuisi dan Artist Collective

ImageOktober 2011, ketika saya sedang semangatnya membaca berbagai puisi, muncullah ide mementaskan karya musik atas puisi dari beberapa penyair. Sungguh sebuah keberanian besar saat itu karena saya masih sedikit berpengalaman menciptakan komposisi #musikpuisi. Akhirnya, pementasan itu, yang bertajuk Membuatku Cinta, diselenggarakan pada tanggal 20 Desember 2011 di Societet Taman Budaya Yogyakarta.

Pasca pementasan, kritik dari beberapa jurnalis dan komentar dari banyak teman pun masuk. Bukannya surut semangatnya, justru saya semakin bergairah untuk menciptakan lagi dan lagi komposisi #musikpuisi.

Pada awalnya, proyek ini belum memiliki nama. Maret 2012, saya menemukan nama untuk kendaraan berkomposisi #musikpuisi. Daripada saya menggunakan nama Jay & Friends yang terlampau biasa, saya menggunakan Jay & Gatra WardayaGatra, berasal dari bahasa Jawa Kawi, berarti baris. Wardaya, berasal dari bahasa yang sama, berarti hati. Dengan nama Jay & Gatra Wardaya, saya berharap dapat mengungkapkan baris-baris hati melalui #musikpuisi dengan palet bebunyian yang saya punya.

Mengapa #musikpuisi?

Apresiasi terhadap puisi seakan di antara hidup dan mati. Salah satu fakta yang saya lihat adalah buku puisi tenggelam di antara deretan buku-buku novel di dalam toko buku. Buku-buku puisi memiliki kemungkinan yang kecil untuk diterbitkan oleh penerbit. Alasannya sangat sederhana; buku-buku puisi jarang dibeli konsumen.

Di sisi lain, buku puisi mudah diterbitkan secara mandiri (baca: indie), namun kenyataannya semangat mengapresiasi puisi masih hanya menjadi milik penyair-penyair (junior maupun senior) dan kaum pemerhati sastra. Acara-acara pembacaan puisi dan peluncuran buku puisi semakin marak, tapi sekali lagi belum mampu mencapai masyarakat pada umumnya.

Melalui musik, saya sangat ingin “membacakan” puisi dengan cara lain kepada pendengar. Saya ingin menembus dimensi-dimensi puisi yang belum pernah saya lakukan sebelumnya sebagai komponis. #Musikpuisi merupakan media seni yang unik. Mengutip dari mas  Djaduk Ferianto, kita menciptakan komposisi berdasarkan puisi sebagai “partiturnya”. Bagi Anda yang ingin lebih jauh mengetahui apa itu #musikpuisi, silakan mengunjungi artikel saya sebelumnya; Musik Puisi.

Dalam proses menciptakan #musikpuisi, puisi yang saya pilih diusahakan beragam; dari temanya sampai penyairnya. Ini menarik sekali mengingat setiap penyair memiliki cita rasa masing-masing di dalam puisinya. Puisi yang berbeda-beda ini akhirnya “menghasilkan” bunyi yang berbeda-beda pula. Maka, komposisi yang diciptakan membutuhkan instrumen dan pemain yang berbeda pula. Titik inilah yang membuat saya memilih konsep Jay & Gatra Wardaya sebagai artist collective.

Konsep artist collective membuat Jay & Gatra Wardaya menjadi sebuah kelompok yang luwes; mampu bersinggungan dengan pemain (sesuai kebutuhan komposisi), penyair, videographer, dan pihak manapun bahkan di luar lingkaran musik untuk dan bekerja sama.

Dalam prosesnya yang hampir dua tahun, Jay & Gatra Wardaya telah menelurkan EP Membuatku Cinta dan karya-karya yang sudah dipentaskan (namun belum dimuat di dalam album). Di usia kelompok yang masih muda ini, saya berharap suatu saat musik Jay & Gatra Wardaya bisa menjadi salah satu garda depan musik Indonesia, termasuk di bidang #musikpuisi. Hihihihi…. nampak agak muluk sih, tapi bisa. Sangatlah bisa!

Jadi, nantikan karya-karya Jay & Gatra Wardaya selanjutnya ya! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s