I’ll See You (Again), Jen Shyu!

Belakangan ini, saya bertemu dengan beberapa seniman senior yang sungguh menginspirasi dan memberikan kesan mendalam. Salah satunya adalah Jen Shyu, yang akrab dipanggil mbak Jen.

Mbak Jen merupakan musisi berdarah Taiwan-Timor Leste berkebangsaan Amerika Serikat. Suaminya bernama Craig Taborn, yang akhir-akhir ini berkarya dan bermain bersama Chris Potter. Kedua-duanya merupakan musisi favorit saya. Selain musisi, mbak Jen juga merupakan Fulbright Scholar.

Saya pertama kali mengetahui info tentang mbak Jen lewat ulasan konser di Salihara tahun 2012 yang diliput oleh Wartajazz. Bermain secara improvisasi yang nyaris selama dua jam tanpa henti dengan format minimalis ternyata memukau penonton, salah satunya ialah Tony Prabowo yang merupakan komponis. Dari ulasan konser tersebut, saya yang tidak menonton pun tak kalah tertarik dan penasaran dengan penampilan mbak Jen.

Mencobalah saya mencari info lebih lengkap tentang mbak Jen, antara lain surfing ke Youtube, media-media online, dan situs pribadinya. Lalu saya temukan situs jenshyu.com.  Melalui biografi singkat dan diskografinya, saya jadi tahu bahwa mbak Jen merupakan vokalis dan multi-instrumentalis yang tidak hanya mengekplorasi bunyi tapi juga menjelajahi kemungkinan gerak tubuh dalam karya dan pertunjukannya.

Ada beberapa cuplikan karya dari album Jade Tongue yang bisa didengarkan di situs tersebut. Reaksi pertama saya ketika mendengarkan cuplikan tersebut adalah, “Gilak! Sangat eksploratif!” Maka dengan pengalaman seperti itu saya semakin penasaran untuk bisa bertemu langsung dan mencari kesempatan untuk belajar banyak dari mbak Jen.

Tuhan mengabulkan doa saya. Di Ngayogjazz 2012, akhirnya saya diperkenalkan dengan mbak Jen oleh mas Ajie Wartono. Pertemuan itu tepatnya setelah diselenggarakan doa bersama untuk kelancaran Ngayogjazz (malam sebelum hari-H)  oleh penyelenggara Ngayogjazz dan penduduk setempat yang terlibat. Saya dengan sedikit malu mengatakan pada mbak Jen, “I am a big fan of you,” dan mbak Jen terlihat sedikit terkejut. Hehehe…

Tapi sayangnya saya tak dapat melihat penampilannya karena jadwal mbak Jen tampil esoknya hampir bertepatan dengan jadwal saya dengan Jay & Gatra Wardaya yang tampil di panggung yang berbeda. Untungnya, nomor ponsel mbak Jen sudah saya simpan demi kelancaran kontak-mengontak kami selanjutnya.

Bulan depannya, setelah perhelatan Ngayogjazz 2012, saya ingin bertemu dengan mbak Jen untuk bicara lebih jauh tentang keinginan saya belajar kepadanya. Mbak Jen mempersilakan saya datang ke tempat tinggal sementaranya di Solo dan meminta saya membawa instrumen. Ternyata akan diadakan sesi improvisasi pertama yang diadakan mbak Jen dengan mengundang pula beberapa seniman lintas media.

Di sore hari yang cerah setelah hujan, saya datang ke sana bersama Tey. Saat kami berkenalan dulu (waktu Ngayogjazz 2012), mbak Jen pun senang mengetahui Tey yang berlatar belakang penulis, ia pun mengajak Tey untuk berpartisipasi dalam sesi improvisasi tersebut. Dengan begitu akan semakin beragam media yang digunakan dalam berimprovisasi. Selain kami juga ada dua orang penari asal Solo yang akan ikut terlibat, salah satunya ialah Danang Pamungkas. Di sesi tersebut, kami belajar berimprovisasi dengan cara yang belum pernah atau tidak biasa kami lakukan sebelumnya.

Khusus untuk saya, karena sama-sama menggunakan bunyi, mbak Jen memberikan panduan tentang interval dan kombinasi penggunaannya. Pada awalnya cukup rumit, tapi ternyata konsep tersebut sangat sederhana. Kesederhanaan itu pula yang menimbulkan beragam kemungkinan kombinasi interval yang luas dan cenderung atonal (tidak bersifat tonal atau memiliki nada dasar).

Dua orang penari, saya, satu penulis, dan mbak Jen berkolaborasi membentuk suatu karya spontan. Kami saling merespon dan direspon, mendengarkan dan didengarkan, melihat dan dilihat, merasakan dan dirasakan, dan sekaligus memberikan energi dan menerima energi satu sama lain. Kami tenggelam dalam improvisasi yang terjadi. Semakin lama durasinya, semakin liar improvisasinya, baik dalam bunyi, gerak, maupun kata-kata. Tak terasa improvisasi tersebut berlangsung selama tiga per empat jam tanpa henti.

Belum selesai dengan sesi sorenya, malamnya bertambah lagi seniman yang hadir dalam sesi tersebut. Malah beberapa di antaranya merupakan “pendekar” yang hadir dengan senang hati untuk terlibat membangun “rasa”. Di antaranya ada Mbah Prapto dari Padepokan Lemah Putih, mbak Peni Candrarini, beberapa dosen ISI Surakarta, dan beberapa seniman mancanegara yang melakukan residensi di Solo.

Sesi improvisasi di malam hari sangatlah liar, apalagi didukung dengan jumlah partisipan yang berjumlah sekitar lebih dari dua puluh orang. Tidak hanya berimprovisasi dengan media yang dikuasai, kami juga dipandu oleh mbak Jen untuk menulis apapun secara spontan sekaligus dibatasi waktu tujuh menit dengan kata kunci yang diberikan oleh salah satu partisipan.

Dari tulisan tersebut, masing-masing dari kami memilih kalimat, frasa, atau kata yang dianggap kuat atau mewakili gagasan yang kemudian ditransformasi menjadi karya pendek dan ditampilkan secara bergantian dengan cara crossfading (jika yang satu hampir selesai maka yang berikutnya menanggapi karya tersebut dan kemudian melanjutkan dengan karya pribadinya, dan berlaku seterusnya).

Dari pertemuan itu, saya lebih banyak mengenal dan berbicara dengan mbak Jen lewat improvisasi. Saya mencoba memahami dan menelusuri secara mendalam kerangka pikiran mbak Jen dan kerangka pikiran saya sendiri dan kemudian merenungkan hal tersebut sebagai sebuah upaya menep (taksu, bergerak ke dalam atau sama halnya dengan upaya mengumpulkan chi dalam tubuh manusia) atas pengalaman hari itu.

Pengalaman ini sangat kuat meresap dalam pikiran saya, hingga energi dan cara berimprovisasi yang saya dapatkan menginspirasi lahirnya karya-karya baru di album kedua Jay & Gatra Wardaya, #TandaHati. Di album ini, selain dengan konsep Lydian Chromatic Concept of Tonal Organization (bukan dengan konsep diatonis pada umumnya), saya melahirkan karya dengan pendekatan kombinasi interval yang diberikan oleh mbak Jen. Konsep ini terlihat dengan jelas salah satunya di komposisi berjudul Pada Sebuah Titik yang ditransformasikan dari puisi mas Lelaki Budiman. Karya ini saya dedikasikan untuk mbak Jen.

Selain kombinasi interval, saya menjadikan improvisasi dalam komposisi-komposisi di album #TandaHati sebagai bagian dari persona atau karakter, yang tidak hanya hadir sebagai kembangan komposisi saja namun juga menjadi bagian penting (yang jika itu dihilangkan maka bangunan komposisi menjadi runtuh).

Setelah sesi improvisasi tersebut, saya bertemu lagi dengan mbak Jen (…akhirnya) dalam satu panggung bersama Ring of Fire Project dan om Idang Rasjidi di Jazz Gunung 2013. Penampilan mbak Jen saat itu sangat berkesan bagi pendengar Jazz Gunung, apalagi dengan dibuka dengan tembang Jawa yang dibawakan langsung oleh musisi berdarah Taiwan-Timor Leste ini.

Saya khawatir itu adalah pertemuan terakhir kami karena mbak Jen harus kembali ke Korea Selatan selama enam bulan. Tapi Tuhan ternyata mempertemukan kami lagi. Kali ini, Tey yang membawa saya bertemu mbak Jen dalam rangka tugas akhir semesternya. Tey mewawancarai mbak Jen seputar kaum wanita Asia-Amerika dalam rangka kuliah pascasarjana di jurusan Studi Amerika UGM. Wawancara tersebut bisa dilihat di sini .

Tidak cukup sampai di situ, saya bertemu mbak Jen lagi atas undangannya kepada kami untuk menonton mbak Jen menari di Kraton Yogyakarta. Kesempatan ngobrol itu pun hadir lagi ketika saya menjadi partisipan dalam sesi improvisasi #4 yang diinisiasi oleh mbak Jen. Setelah itu, sehari kemudian, saya dan Tey menyaksikan pertunjukan After Dream, pertunjukan kolaborasinya dengan mbak Peni Candrarini yang diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta pada pertengahan Januari 2014 yang lalu.

Pertemuan saya dengan mbak Jen bisa dihitung dengan jari. Namun, ada nilai-nilai berharga yang saya dapatkan darinya pada pertemuan kami yang singkat ini. Mbak Jen adalah musisi yang membumi (yang bahkan bersedia hadir dalam acara ijab-qabul pernikahan saya dan Tey #NikahSaja).

Saya mengenangnya sebagai sahabat sekaligus guru dalam kehidupan saya. Saya pun berharap bahwa mbak Jen mendapatkan suatu kebaikan dan keberkahan atas keikhlasannya memberikan ilmu. Semoga mbak Jen berkenan dengan pertemuan ini. Sekarang dia telah kembali ke Amerika untuk menyelenggarakan pertunjukan berikutnya sekaligus meneruskan apa yang telah dia rajut sebelumnya.

Terima kasih banyak atas semuanya, mbak Jen. Terima kasih!

Saya & mbak Jen saat sound check Jazz Gunung 2013

Saya & mbak Jen saat sound check Jazz Gunung 2013. (Foto oleh Dias Agusta)

Advertisements