Suluk Linglung; Kasmaran Branta (Asmarandana) Sekar 6 & 7

Judul di atas merupakan komposisi terbaru yang ditampilkan bersama Jay & Gatra Wardaya 30 April lalu di Teater Garasi dalam rangka International #JazzDay. Ini adalah komposisi kedua yang menggunakan macapat (puisi Jawa baru) sebagai titik pijakan Jay & Gatra Wardaya dalam berkarya. (Yang pertama adalah Pangkur Mingkar-Mingkur, ditampilkan pada tahun 2012.)

Komposisi ini menggunakan teks gubahan Iman Anom berjudul Suluk Linglung yang diciptakan tahun 1884 M, sesuai sengkalan yang tertera dalam teks tersebut, “Ngerasa Sirna Sarira Ji,” yang berarti angka tahun 1806 Saka. Teks ini diadaptasi dari Kitab Duryat milik Sunan Kalijaga yang berisi ajaran hidup Sunan Kalijaga dalam menggapai makna hakikat hidup manusia dan hakikat kehidupan.

Suluk Linglung berbentuk macapat yang terbagi atas enam pupuh; (1) Bramara Ngisep Sari (Kumbang Menghisap Madu) – Dhandhanggula, (2) Kasmaran Branta (Rindu Kasih Sayang) – Asmarandana, (3) Durma, (4) Sang Nabi Khidir – Dhandhanggula, (5) Kinanthi, dan (6) Dhandhanggula. Yang ditranformasikan menjadi musik adalah pupuh ke-2, Asmarandana, sekar (bait) ke-6 dan ke-7.

Berikut adalah bait yang dimaksud:

Den becik gama nireki (perbaikilah ketidakaturan yang ada)

agama pan tata krama (agama itu tata krama)

krama –kramate Hyang Manon (kesopanan untuk kemuliaan Tuhan Yang Maha Mengetahui)

yen sira panata syarak (bila kau berpegang pada syariat)

sareh iman hidayat (serta segala ketentuan iman hidayat)

hidayat iku Hyang Agung (hidayat itu dari Tuhan Yang Maha Agung)

agung ing nugrahanira (yang sangat besar kanugrahan-Nya)

 

Kanugrahane Hyang Widhi (anugerah Tuhan)

ambawani kasubdibyan (meliputi dan menimbulkan keluhuran budi)

pangawasane pan dene (adapun kekuasaan-Nya menumbuhkan)

kadigdayan kaprawiran (kekuatan luar biasa dan keberanian)

sakabeh rehing yuda (serta meliputi segala kebutuhan perang)

tan liya nugraha luhur (yang demikian itu tidak lain adalah anugerah yang besar)

utamane kahutaman (paling utama dari segala keutamaan)

 

Sesuai interpretasi saya, teks ini bercerita tentang anjuran untuk berbuat baik sesuai syariat dan kesadaran meningkatkan rasa syukur akan anugerah Tuhan. Syariat dalam agama Islam dapat diwakili dengan lima rukun Islam. Berbuat baik diwujudkan dengan sarana lima panca indera dan lima bagian tubuh yang lepas (kepala, dua tangan, dan dua kaki).

Anugerah Tuhan yang (teramat) besar dapat dirasakan seperti energi yang besar sekali, tak dapat dihitung jumlahnya, dan barangkali sukar didefinisikan. Energi tersebut turun dari langit, keluar dari dalam bumi, dan kadangkala mengalir seperti air menyejukkan dahaga jiwa. Sifat-sifat ini memang sengaja ditegaskan di dalam interpretasi ini karena manusia tak dapat hidup tanpa anugerah-Nya, sedangkan anugerah-Nya tak dapat dicatat oleh manusia sekalipun lautan di bumi digunakan sebagai tintanya.

Setelah interpretasi atas teks dirancang, proses transformasi ke dalam musik dilakukan berdasarkan interpretasi di atas. Pada bagian awal hingga jalannya bait pertama, pad keyboard mewakili keheningan atau keadaan netral (dalam tubuh) yang dibutuhkan manusia untuk berbuat baik. Deretan frasa yang dimainkan dengan contrabass hingga akhir baris ketiga mewakili perilaku berbuat baik. Frasa ini disajikan dengan interpretasi tempo dan dinamika yang sesuka hati (ad libitum –Latin) yang menandakan perbuatan baik itu tidak serta merta dapat dilakukan konsisten.

Dari akhir baris ketiga hingga baris ketujuh, sukat 5/4 mewakili lima panca indera dan lima bagian tubuh yang lepas. Sekali lagi, 5/4 ini tidak dibawakan dengan “titik” yang pasti dengan alasan sifat inkonsistensi manusia dalam berbuat baik walaupun sudah dalam titik kesadaran penuh.

Memasuki akhir baris ketujuh hingga bait kedua baris terakhir, anugerah Tuhan digambarkan dengan drums yang berimprovisasi bebas (dalam koridor yang berkelanjutan, dinamika yang besar, dan sustaining), keyboard yang membunyikan lima nada berurutan (arpeggio) yang berbeda dan berangsur-angsur membesar registernya di setiap baris, dan contrabass yang mengikuti jalannya melodi vokal (yang juga mengadaptasi fungsi rebab).

Mulai baris terakhir hingga bagian akhir komposisi, tenor saxophone masuk dan berimprovisasi bebas dalam koridor akord F#/E, contrabass dan keyboard mengikuti apa yang dilakukan tenor saxophone, dan drums memperlebar dinamika. Akord F#/E di telinga saya memiliki sifat yang lebar dan stabil, sehingga penggabungan F#/E dengan dinamika yang lebar menimbulkan kesan atmosfer dunia yang luas, seluas anugerah Tuhan.

Untuk melodi vokal, pelog pathet 6 digunakan dengan sedikit modifikasi dengan cara mengubah tonality (simak melodi vokal pada bait kedua). Pengubahan ini diinspirasi dari cara sistem musik barat mengubah sitem nada dasar. Permainan tonality yang demikian ini dimaksudkan untuk menciptakan klimaks dalam penggambaran anugerah Tuhan. Pada frasa yang mengalami perubahan tersebut, melodi vokal dibuat dengan contour menurun untuk menggambarkan sifat anugerah Tuhan yang seakan-akan memasuki manusia dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Proses transformasi di atas berpijak pada penghidupan persona (karakter) yang terdapat di dalam teks melalui instrumen musik. Proses ini juga telah diterapkan di dalam album kedua Jay & Gatra Wardaya, Tanda Hati; Sembilan Lukisan Kata & Nada.

Dalam penampilannya, Paksi Raras (vocal), Benny Fuad (drums), Made Anggoro (contrabass), dan Pandan Purwacandra (keyboard) memberikan kontribusi yang menarik dalam memberikan penafsiran terhadap komposisi ini. Komposisi ini diciptakan dengan ruang interpretasi yang luas sehingga timbullah penafsiran yang berlapis dari setiap pemain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s