Disclaimer: Tulisan ini tadinya merupakan PR saya dalam mengikuti kursus bahasa Inggris bulan lalu. Karena mungkin ini akan berguna bagi orang lain, saya menerjemahkan PR ini ke dalam bahasa Indonesia, menyuntingnya, dan mempublikasikannya di blog ini. Semoga bermanfaat!

Tahun ini saya mendapatkan kesempatan melakukan residensi dalam program 2014 International Fellowship in Study of Korean Music dari 12 Juni sampai dengan 6 November. Program ini diselenggarakan oleh National Gugak Center sebagai bagian dari Cultural Partnership Initiative (CPI) Project yang dijalankan oleh Ministry of Culture, Sports, & Tourism of Korea.

Dalam program ini, saya berencana mempelajari Piri (salah satu instrumen musik Korea) dan meneliti aspek musikal, budaya, & sosial dalam musik Korea. Piri merupakan instrumen tiup vertikal dan berbuluh ganda (double-reed).

Perkenalan pertama saya pada musik Korea adalah ketika Jen Shyu (salah satu teman saya yang tinggal di US, Fulbright Scholar) memainkan Gayageum (instrumen petik Korea) saat istri saya mewawancarainya di Solo tahun lalu. Saya begitu tertarik dengan alat musik tersebut, walaupun saya belum mempunyai referensi dan pengalaman apapun tentang musik Korea.

Bulan Februari lalu, istri saya menunjukkan informasi tentang program fellowship ini dan saya tertarik. Maka, saya menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan seperti CV, proposal, formulir aplikasi, salinan ijazah, salinan paspor, dan tiga surat rekomendasi. Untuk surat rekomendasi, saya memohon kepada mbak Jen Shyu, mas Djaduk Ferianto, dan mas Ajie Wartono (WartaJazz, penyelenggara workshop & festival musik) untuk berkenan menuliskannya. Mbak Jen sendiri merupakan peserta program fellowship yang sama tahun lalu.

Ketika menghubungi mbak Jen, saya disarankan olehnya untuk memilih salah satu instrumen Korea sebagai alat musik utama yang akan saya pelajari. Beliau memberikan beberapa pilihan; Taepyongso, Piri, atau Saenghwang. Semuanya alat tiup, karena saya pemain Saxophone. Taepyongso berbunyi mirip Slompret Ponorogo, Piri berbunyi seperti Oboe, dan Saenghwang berbunyi seperti akordeon. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memilih Piri.

Berkas-berkas yang sudah siap akhirnya saya kirimkan via email. Saya benar-benar grogi. Tiba-tiba saya merasa tidak percaya diri. Ini merupakan pengalaman ke-10 saya dalam mendaftar program fellowship maupun program festival kesenian dalam tiga tahun terakhir. Kesembilannya yang lalu telah gagal. Ada kekhawatiran bahwa usaha ke-10 saya ini pun akan gagal.

Tiga minggu kemudian, saya menerima pengumuman yang menyatakan bahwa saya diterima dalam program ini. Saya mbrambangi. Gembeng yo ben. Saya langsung memeluk istri saya dan bersyukur. Saya pun segera mengabarkan berita baik ini kepada mbak Jen, mas Djaduk, dan mas Ajie.

Saya tidak terlalu yakin faktor apa yang membuat saya diterima di dalam program ini. Saya tidak tahu pasti. Walaupun begitu, saya meyakini bahwa usaha yang saya lakukan sebelum mendaftar program ini telah membantu saya dalam mendapatkan kesempatan ini.

Seperti usaha dalam menemukan “ke-Indonesia-an” dalam diri saya sendiri yang saya lakukan dalam beberapa tahun terakhir ini.  Mempelajari musik Indonesia dan menemukan hal kontemporer yang berakar dari Indonesia serta kearifan lokal adalah hal yang berusaha saya tempuh. Untuk saat ini, mempelajari musik Jawa dan musik Minang menjadi jalan terdekat, karena sesuai dengan keadaan kehidupan saya yang tinggal di Yogyakarta dan memiliki latar belakang keluarga (dari pihak ayah) yang berasal dari Bukittinggi.

Tidak bisa dipungkiri, jazz dan musik barat memang lekat pada diri saya, namun saya tak cukup puas sampai di situ saja. Bukannya lebay. Kenyataannya, hidup saya yang cukup kental dalam pengaruh budaya barat membuat saya hampir lupa akar budaya saya sendiri. Dari situ saya mulai kembali menggali akar budaya saya sendiri dengan mempelajari musik Jawa dan Minang.

Selain itu, saya juga belajar memperbaiki penulisan CV dan proposal yang biasanya menjadi salah satu persyaratan dalam pengajuan program fellowship maupun festival kesenian. Saya meyakini bahwa CV dan proposal tersebut dapat membantu saya dalam membangun brand image, karena CV adalah salah satu media untuk menunjukkan prestasi dan pencapaian kita, sedangkan proposal adalah media untuk menunjukkan maksud kita dalam mengikuti program tersebut.

Satu hal lagi, link atau hubungan baik dengan orang lain yang seprofesi maupun tidak seprofesi juga sangat penting dalam kehidupan sosial maupun untuk mendukung karir saya sebagai musisi. Sebenarnya tak perlu dijelaskan lagi mengapa hal ini sangat penting, teman-teman pembaca pasti sudah mengetahuinya.

Saya berharap tulisan ini dapat menginspirasi teman-teman, khususnya musisi yang mencari kesempatan berpengalaman dalam program di luar negeri. Baik untuk mempelajari musik dari negeri lain maupun untuk mempromosikan musik Indonesia, atau bisa juga dua-duanya seperti yang sedang saya lakukan saat ini dalam program fellowship ini.

Tentunya masih banyak hal yang harus saya tingkatkan dalam berkesenian. Evaluasi terhadap diri saya sendiri harus dilakukan. Saya juga berharap teman-teman bersedia berbagi pengalaman. Siapa tahu kita bisa saling melengkapi pembelajaran kita dengan bertukar pengalaman.

Semoga menginspirasi!

PS: Terima kasih kepada semua teman-teman yang telah berbagi pengetahuan dan berproses bersama-sama!

Advertisements

2 thoughts on “Tentang 2014 International Fellowship in Study of Korean Music

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s