Rahasia Menikmati Musik yang Beraneka Ragam

Pada abad ini, musik mengalami perkembangan bentuk dan gaya yang sangat pesat. Kemudahan pertukaran informasi yang dipicu oleh akses internet menyebabkan musik dari daerah lain dapat tersebar dengan mudah dan cepat. Kita menjadi tahu bahwa ada musik Noise, Karawitan Jawa Tengah, Bebop, Free Jazz, Saluang jo Dendang, Delta Blues, Progressive Rock, Samulnori, Experimental Pop, Electronic, Trip Hop, East European Folk, hingga musik-musik kontemporer yang tidak mudah dilabeli dengan nama genre.

Pendengar dapat dengan mudah mengakses berbagai macam musik dari festival, website, radio, dan televisi. Berbagai jenis musik sudah memiliki festival sebagai wadah untuk penyajiannya. Sebagai contoh, terdapat festival musik Noise, Jazz, Rock, Blues, Karawitan, hingga festival musik khusus seperti festival untuk instrumen Harpsichord, festival musik yang disajikan berdasarkan graphic score atau notasi gambar, festival musik improvisasi, festival untuk kuartet String, festival untuk instrumen Gitar, dan masih banyak lagi.

Di internet, kita dapat dengan mudah menemukan musik-musik di atas seperti di Youtube, Vimeo, Soundcloud, dan situs penyaji audio maupun video lainnya. Di televisi dan radio, kita dapat menemukan beberapa kanal yang menyajikan musik-musik Orkestra, Jazz, Musik Dunia (World Music), dan sebagainya.

Keanekaragaman ini, di satu sisi, tidak serta merta diikuti dengan kemudahan dalam menikmatinya. Jenis musik yang bermacam-macam ini memiliki estetika yang berbeda-beda, yang akhirnya menuntut pemahaman akan musik satu dengan lainnya. Perbedaan ini dapat dinikmati dan dipahami apabila pendengar mengapresiasi musik yang beraneka ragam.

Cara yang temudah bagi pendengar untuk mengapresiasi musik yang beraneka ragam ialah dengan sering mendengarkan keanekaragaman musik itu sendiri. Aktivitas mendengarkan keanekaragaman tersebut akan menambah pengalaman atas bebunyian. Hal ini akan membentuk kebiasaan dalam mengalami bebagai macam dinamika, stuktur, tekstur, nada, warna bunyi, ritmis, hingga lapisan makna yang dikandung oleh musik-musik tersebut.

Dalam aktivitas pendengaran, mari kita bedakan antara mendengar (hearing), mendengarkan (listening), dan mendengarkan secara mendalam (deep-listening) karena ketiga hal tersebut amat berbeda. Aktivitas mendengar tidak membutuhkan perhatian yang khusus dikarenakan dapat dilakukan sambil lalu; aktivitas mendengarkan membutuhkan perhatian; aktivitas mendengarkan secara mendalam membutuhkan perhatian dan konsentrasi secara menyeluruh. Bagi pendengar awam, cobalah untuk memasuki tahap mendengarkan.

Mengalami hal baru pasti tidak mudah pada awalnya dan ini berlaku pula dalam berapresiasi. Hal-hal baru biasanya akan berbenturan dengan selera yang telah terbentuk berdasarkan perspektif pandangan yang telah terpatri. Ini merupakan hal yang wajar, seperti yang pernah diungkapkan oleh Steve Coleman, seorang saxophonis, bahwa semua hal pasti tidak mudah pada mulanya.

Selain mendengarkan, aktivitas apresiasi didukung dengan aktivitas nonmusikal, seperti mencoba berbicara dan bertanya kepada musisi (ketika setelah pertunjukan) dan mencari tahu biografi musisi dan latar belakang sejarah musik tersebut (lewat internet, buku, atau catatan rekaman). Mendengarkan musik lain yang gaya musiknya cukup dekat dengan musik yang pernah Anda dengarkan pun dapat membantu untuk memperlebar wawasan bunyi.

Anda mungkin bertanya-tanya, untuk apa kita berapresiasi? Jawabannya berkaitan dengan kebutuhan manusia dalam mendengarkan hal baru; berapresiasi akan memudahkan kita dalam mendengarkan dan menikmati keragaman musik yang begitu luas.

Aktivitas apresiasi akan membuka cakrawala pendengar akan kekayaan musik di dunia. Di samping itu, apresiasi akan menumbuhkan sikap obyektif dalam menilai musik yang beragam, baru, atau cenderung asing yang sedang kita dengarkan. Selera merupakan sesuatu yang menyebabkan hidup manusia berwarna, namun ia memiliki efek samping terhadap penilaian manusia yang cenderung subyektif. Apa yang kita anggap tidak enak saat ini tidak berhubungan dengan kualitas sebuah musik.

Ibarat menyantap makanan, lidah orang Jawa yang menyantap Gudeg tentu berbeda dengan ketika menyantap Pizza. Gudeg barangkali sudah pasti enak, tapi tidak demikian dengan Pizza yang notabene merupakan makanan yang sering disantap oleh orang Italia. Gudeg dan Pizza adalah makanan yang berbeda cita rasa, estetika, dan latar belakang sejarahnya. Maka, alangkah lebih bijak jika kita menilai kedua hal tersebut dengan penilaian yang obyektif, bukan dengan penilaian berdasarkan selera.

Seperti makanan, musik juga memikili cita rasa, estetika, dan latar belakang sejarahnya masing-masing. Dengan pandangan obyektif, pendengar dapat memiliki wawasan pengetahuan dan perspektif pandangan yang luas. Kedua hal ini dapat membentuk dan mengembangkan selera musik seseorang.

Jika Anda adalah penggemar musik Pop, cobalah untuk menyimak musik Jazz dan Noise. Jika Anda adalah penggemar musik Rock, cobalah menyimak musik Karawitan dan Pop. Jika Anda adalah penggemar musik Hip Hop, cobalah untuk datang ke festival musik kontemporer atau pementasan musik Dangdut. Ciptakan komunikasi dengan musisi setelah menonton pertunjukannya dan carilah pengetahuan di internet atau buku yang akan mendukung informasi tentang musik yang Anda nikmati. Alih-alih menggunakan istilah enak-tidak-enak sebagai penilaian, gunakan tolok ukur lain seperti dinamika, tekstur, makna lirik, atau apapun yang membuat Anda tertarik pada musik tersebut.

Pada akhirnya, aktivitas apresiasi akan menuntun kita sebagai pendengar untuk sampai pada tujuan besar dalam berapresiasi, yaitu kemudahan dalam menikmati musik yang beraneka ragam dari seluruh penjuru dunia.

Advertisements

Pertemuan Saya dengan Saluang

Saya terlahir dalam garis keturunan separuh Minangkabau (Minang). Bapak saya lahir di Bukittinggi, sedangkan Ibu saya lahir di Cilacap dan memiliki garis keturunan Cina. Saya dua bersaudara dengan seorang adik perempuan. Dulu kami tinggal di Cilacap, namun pada akhir tahun 1999 kami sekeluarga pindah ke Yogyakarta.

Bapak saya bekerja sebagai pengawas listrik di kapal perusahaan pupuk. Beliau jarang sekali pulang ke rumah karena lebih sering berada di laut. Pekerjaan pengawasan listrik kapal hingga saat ini jarang diminati orang. Akibatnya, hanya sedikit orang yang bekerja di bidang tersebut dan konsekuensinya Bapak saya mendapatkan tuntutan kerja yang lebih banyak. Kami pun jarang bertemu.

Saya dibesarkan dalam lingkungan berbahasa Indonesia. Dulu, belajar bahasa Jawa atau Minang pun malas-malasan. Di pelajaran Muatan Lokal alias Mulok, bahasa Jawa menjadi pelajaran sampingan dan nilai ujian saya tidak pernah lebih dari 40%.

Ketika pindah ke Yogyakarta, saya jadi kagok karena tidak bisa berbahasa Jawa. Pernah saat bertemu saudara jauh dari garis keluarga Bapak, saya pun roaming ketika mendengarkan percakapan mereka dalam bahasa Minang.

Pernah saya minta diajari bahasa Mandarin kepada Ibu saya, namun beliau sering menolak. Sepertinya trauma akan rezim Soeharto yang mencabik-cabik kehidupan orang Cina di Indonesia masih membekas. Saya pun menjadi tak termotivasi untuk belajar bahasa Mandarin.

Ketertarikan pada budaya keluarga sendiri nampaknya belum menjadi fokus saya pada saat itu. Adik saya masuk ke Sekolah Menengah Musik Yogyakarta dan mengambil jurusan Violin. Sering saya menonton dia konser dengan orkestra sekolah maupun dengan ansambelnya di luar sekolah. Saya perlahan larut dalam musik Klasik Eropa dan mulai belajar gitar klasik.

Pernah saya bergabung dengan ansambel musik remaja di TBY. Saya gak ada apa-apanya dibandingkan dengan teman-teman saya yang jago primavista. Akhirnya, saya mulai belajar aransemen dengan menulis notasi di komputer dengan otodidak. Dari situ, saya mulai mencari referensi musik orkestra dan ansambel.

Ketika masuk kuliah di Ilmu Komputer UGM, saya sempat bergabung dengan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UGM. Tapi kemudian saya malas-malasan ikut latihan hingga pada suatu saat PSM angkatan saya akan melakukan konser. Saya berinisiatif membentuk string ensemble untuk mengiringi PSM dengan dibantu teman saya yang juga merupakan teman di PSM, mas Andre. Di situlah ilmu aransemen saya terpakai lagi.

Ansambel tersebut akhirnya menjadi UKM bernama Gadjah Mada Chamber Orchestra. Entah kenapa saya menjadi disorientasi, hingga akhirnya saya memutuskan untuk membeli Saxophones bekas dan mencari guru. Dengan modal nekat, saya mendaftarkan diri di Institut Seni Indonesia dan meninggalkan kuliah Ilmu Komputer UGM.

Sontak Ibu saya marah besar mendengar kabar itu. Namun, saya mencoba meyakinkan orang tua saya dan saat itu Bapak lah yang merestui keinginan saya. Saya lalu belajar keras untuk mengejar ketertinggalan.

Semangat dalam perkuliahan di kampus baru, saya makin larut dalam musik jazz dan musik klasik kontemporer. Segala loka karya, seminar, pentas di dalam dan luar kampus, hingga kegiatan musik dan nonmusik di beberapa komunitas musik saya ikuti. Karena pengalaman ini, pengetahuan akan musik Nusantara terbuka perlahan-lahan.

Tahun 2011. Mulai sadar akan budaya keluarga sendiri, saya mulai mencari informasi kepada Bapak tentang Saluang dan musik Minang. Beliau kemudian menghubungi sepupu di kampuang nan jauah di mato untuk meminta dikirimi VCD musik Minang dan Saluang. Selang satu minggu kemudian, kiriman paket sampai di tangan.

Betapa girangnya saya. Tapi, ternyata memainkan Saluang itu sulit sekali. Membunyikannya pun tak mampu. Lagi-lagi, saya patah semangat. Pernah saya berpikir untuk mencari guru Saluang, tapi waktu tak bisa berkompromi.

Singkat cerita, di tahun 2013 saya mendapatkan kado Saluang dari pacar saya (sekarang menjadi istri saya). Nampaknya ini bukan sekadar kado; dia memaksa saya untuk menyempatkan diri belajar budaya keluarga. Tapi apa daya, saya baru bisa memiliki waktu belajar Saluang di tahun berikutnya.

Iya, di tahun berikutnya. Adalah sepeninggal Bapak saya di awal Februari yang menjadi cambuk bagi saya untuk meneruskan budaya keluarga. Saya seperti terpanggil untuk giat belajar Saluang. Di bulan yang sama, saya berusaha mencari guru dan ingin segera memulai sesi agar saya pun tidak larut dalam kesedihan.

Bertemulah saya dengan Purwanto, mahasiswa Etnomusikologi ISI Yogyakarta. Hanya sempat bertemu dua kali karena waktu yang tidak berjodoh, saya mencari guru kedua. Uda Beni, mahasiswa S2 ISI Yogyakarta, menjadi guru saya berikutnya. Kami hanya bertemu sekali saja dan tidak ada sesi kelas resmi.

Waktu itu saya tidak punya waktu banyak karena sedang mempersiapkan segala sesuatu dalam rangka fellowship di Korea. Nah, setelah berada di Korea, saya memiliki waktu banyak untuk belajar Saluang secara mandiri dengan hanya berbekal ingatan atas apa yang pernah saya pelajari dari guru-guru saya dan VCD lagu Saluang yang saya dapatkan tiga tahun yang lalu.

Beginilah proses saya dalam berlatih Saluang : saya bisa menghasilkan bunyi dalam dua minggu latihan, saya bisa meniup dengan agak stabil dalam dua bulan latihan, kemudian saya bisa mempraktikkan napas putar dalam empat hingga lima bulan latihan. Sungguh ini merupakan instrumen paling sulit yang pernah saya mainkan!

Betapapun sulitnya instrumen ini dimainkan, saya jatuh hati pada Saluang dan musik Minang.

Kini, saya tidak hanya ingin menjadi pemain Saxophones saja. Juga tidak hanya ingin menjadi orang-bertampang-dan-berlatar-belakang-Indonesia yang memainkan musik barat saja. Saya harus memiliki suara saya dalam bermusik. Beruntungnya, saya memiliki itu yang berasal dari keluarga besar.

Tugas utama saya sekarang adalah menanamkan itu dalam diri saya dan menerjemahkannya ke dalam bahasa musik saya sehingga menjadi—apa yang saya pahami sebagai—tradisi.

Dan perjalanan pun dimulai…

Catatan :

Saluang merupakan instrumen musik dari Sumatera Barat, Indonesia. Bentuknya tabung silinder panjang dengan empat lubang. Tidak seperti kebanyakan suling yang dimainkan secara horizontal atau vertikal, Saluang dimainkan dengan cara diagonal dengan meniup bagian atas tabung membentuk sudut perpendicular. Teknik khas yang dipakai dalam memainkan Saluang adalah napas putar atau manyisiahkan angok. Secara tradisional, Saluang dimainkan dalam perayaan domestik seperti malam bagurau (fundraising) dan pesta kecil. Dan Saluang biasa dimainkan antara setelah Isya’ sampai sebelum Shubuh.

Indonesia Discovery Box Project

The National Folk Museum (국립민속박물관) memiliki program The Culture Discovery Box yang bertujuan mempromosikan berbagai kebudayaan yang tersebar di dunia. Tahun ini Indonesia dipilih sebagai tema utamanya.

Pihak museum mengembangkan proyek Indonesia Discovery Box dan akan meluncurkan Indonesia Box. Proyek ini bertujuan memberikan pengetahuan tentang budaya Indonesia khususnya kepada anak-anak, warga setempat, dan warga asing yang tinggal di Korea Selatan. Proyek ini diarahkan oleh Valentina Beatrix yang juga merupakan peserta CPI (Cultural Partnership Initiative) 2014.

Proyek ini dikemas berbentuk semacam lemari yang bisa dilipat ke samping. Setiap lipatan tampak depannya berukuran sekitar 1 m x 2 m. Box ini didesain sedemikian rupa sehingga anak-anak diharapkan dapat memahami budaya Indonesia dengan lebih mudah dan menyenangkan.

Di kotak tersebut terdapat informasi singkat seperti bendera negara, baju adat, makanan khas, cerita anak, dan musik Indonesia. Semuanya diterangkan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Korea dan bahasa Inggris.

Saya berpartisipasi dalam proyek ini untuk bagian musiknya. Bekerja sama dengan Iik Suryani, peserta CPI 2014 juga, kami merekam sebagian instrumen Indonesia. Kami hanya bisa menggunakan sebagian alat musik Indonesia karena keberadaannya di the National Folk Museum terbatas, sedangkan saya dan Iik Suryani juga tidak terlalu banyak membawa instrumen tradisional dari Indonesia.

Iik Suryani membawa beberapa aksesoris klothekan dan Suling Jawa, sedangkan saya membawa Saluang dan Siter Jawa. Kebetulan pihak museum memiliki beberapa instrumen aksesoris dan angklung.

Rekaman dilakukan di studio yang terletak dekat Universitas Dongguk pada 16 September 2014 pukul 16:00 waktu setempat. Untuk keperluan visual, kami memakai baju khas Indonesia pada saat rekaman. Saya memakai baju khas Minangkabau, sedangkan Iik Suryani memakai baju khas Jawa Tengah.

Khusus untuk rekaman angklung, Valentina hadir membantu karena dua orang saja tidak cukup untuk memainkannya. Ngomong-ngomong, semua pasti sudah tahu kalau membunyikan angklung itu mudah, tapi untuk memainkannya tidak mudah. Dibutuhkan koordinasi yang baik antara pemain. Alhasil, walaupun memainkan secara spontan, kami pun harus melakukan beberapa kali take hanya untuk sebuah lagu pendek. Apalagi satu orang memegang dua sampai tiga buah angklung sekaligus. Haha…

Indonesia Discovery Box akan diluncurkan pada Selasa, 30 September 2014 pukul 15:00 waktu setempat di Children’s Education Hall, The National Folk Museum. Acara ini gratis. Teman-teman semua yang berada di Seoul kami harapkan untuk hadir di acara tersebut. Menurut kabar, akan ada sajian khas Indonesia salah satunya rendang.

Rencananya, kami juga akan memainkan lagu Tanah Air (yang pernah direkam oleh Jay & Gatra Wardaya tahun 2012 silam) dan lagu khas Korsel Arirang yang akan diaransemen dengan Saluang dan vokal khas Jawa Tengah.

NB: The National Folk Museum beralamat di Samcheong-ro 37, Jongno-gu, Seoul, Korea [서울시 종로구 삼청로 37 (110-820), www.nfm.go.kr]

(dari kiri ke kanan) Lee Eun Mi (The National Folk Museum), Valentina Beatrix, Iik Suryani, saya, dan Hyunjun Kim

Jay & Gatra Wardaya dari Tahun ke Tahun

Tiba-tiba iseng buka folder foto-foto Jay & Gatra Wardaya. Lalu saya jadi pingin unggah foto-foto Jay & Gatra Wardaya dari tahun ke tahun.

2011

 

 

2012

 

 

2013

 

 

2014

 

 

2015

 

Sumber foto :

@adicahcilik, Nine Photoworks, Praswa Jati, Mega Novetrishka (Jazzuality.com), swaragamajogja.com, Ilyas Prakananda, Pamityang2an Qwerty Radio, Terry Perdanawati, Thomas Dian, & Domenico Khalik Nugrahanta.

 

2014 International Gugak Workshop

Program 2014 International Fellowship in Study of Korean Music yang saya ikuti secara resmi dimulai dengan diselenggarakannya 2014 International Gugak Workshop. Program ini diselenggarakan oleh National Gugak Center (NGC) dan didukung penuh oleh Ministry of Culture, Sports, and Tourism of Korea.

Selain melibatkan tiga peserta CPI (Thuy Dung Nguyen [VNM], Onuma Vejakorn [THA], dan saya sendiri [IDN]), lokakarya ini juga melibatkan tujuh belas peserta dari berbagai negara yang diseleksi oleh NGC. Di sini saya bertemu dengan peserta dengan berbagai latar belakang, seperti professor, asisten professor, Ph.D. candidate, musisi, dan penyelenggara festival.

Program ini berlangsung selama dua minggu dari 16 Juni sampai dengan 27 Juni, dimulai dari pukul 9:00 sampai dengan 17:00. Program ini berisi kuliah dari professor dan peneliti, lokakarya studio oleh praktisi, dan dua kali karyawisata ke tempat bersejarah.

Materi yang disampaikan dalam kuliah adalah (1) pengenalan musik Korea oleh Song Ji-won [Director/Division of Music Research of NGC], (2) musik istana dan pungnyubang oleh Kim Youngwoon [Professor, Hanyang University], (3) musik rakyat tradisional Korea oleh Yi Jiyoung [Professor, Seoul National University], (4) mode dan tangga nada dalam musik Korea oleh  Kim Heyjung [Profesor, Gyeongin National University of Education], (5) Pungmul  dan Samulnori oleh Nathan Hesselink [Professor of Ethnomusicology, University of British Columbia], dan (6) ritual dan musik Shaman oleh Lee Yongshik [Professor, Chonnan University].

Enam materi kuliah di atas memberikan informasi musik tradisional Korea dengan berbagai klasifikasi dan hubungan, seperti klasifikasi kelas dalam strata sosial dan fungsi musik (seperti musik istana dan musik rakyat), klasifikasi wilayah semenanjung Korea dalam penggunaan mode dan tangga nada, klasifikasi perkembangan musik Korea (seperti perkembangan Pansori dan Sinawi yang menghasilkan Sanjo), dan klasifikasi instrumen (seperti paleum/delapan elemen bumi, asal-usul wilayah instrumen, dan klasifikasi Sachs-Hornbostel), hubungan dialek masyarakat Korea dengan musiknya, dan hubungan antara musik Korea dengan kepercayaan dan ritual masyarakat setempat.

Sedangkan sesi lokakarya studio menyediakan menu pelatihan instrumen musik Korea, yaitu (1) Gayageum oleh Ha Kyoungmee [Instruktur dan Ph.D. di Dankook University], (2) Pansori oleh Yu Mili [Vokalis, Folk Music Company of NGC], (3) Janggu oleh Park Eunha [musisi, Folk Music Company of NGC], (4) Danso oleh Kim Sangjun [musisi, Court Music Company of NGC], (5) Haegeum oleh Ko Sooyoung [musisi, Court Music Company of NGC], dan (6) tari tradisional oleh Choi Kyungja [koreografer, Dance Troup of NGC].

  

Masing-masing peserta dapat memilih instrumen yang ingin dilatih. Kemudian di akhir lokakarya, peserta mempresentasikan hasil latihannya di Umyeon Dang Theater. Saya memilih Gayageum dan Janggu, beberapa yang lain memilih Pansori dan Haegeum, Haegeum dan Janggu, dsb.

Foto oleh Ploy Song

Foto oleh Ploy Song

Foto oleh Ploy Song

Foto oleh Ploy Song

Foto oleh Ploy Song

Foto oleh Ploy Song

Foto oleh Ploy Song

Foto oleh National Gugak Center

Foto oleh Ploy Song

Foto oleh Ploy Song

Foto oleh Ploy Song

Foto oleh Ploy Song

Program ini juga menyediakan karyawisata, yaitu ke Istana Chang Deok Gung (istana sekunder Dinasti Joseon) dan National Museum. Selain itu, peserta pun diberikan kesempatan untuk menonton pertunjukan kesenian tradisional yang diselenggarakan di Umyeon Dang Theater dan Pungnyu Theater. Pertunjukan ini antara lain menampilkan kesenian Sanjo, Sinawi, Pansori, Ganggangsullae, Gagok, Jongmyojeryeak, dsb.

Walaupun hanya diselenggarakan dalam dua minggu, ilmu yang diberikan dalam program ini sangat padat. Pengetahuan musik diberikan dalam aspek musikal, sosial, dan budaya sehingga peserta mendapatkan gambaran besar akan sejarah musik tradisional Korea yang sudah berusia sekitar lima ribu tahun. Saya merasa senang dapat berpartisipasi di program ini.

NB: Semua foto adalah milik Jay Afrisando, kecuali yang sudah diberikan keterangan lain di bawahnya.

Suluk Linglung; Kasmaran Branta (Asmarandana) Sekar 6 & 7

Judul di atas merupakan komposisi terbaru yang ditampilkan bersama Jay & Gatra Wardaya 30 April lalu di Teater Garasi dalam rangka International #JazzDay. Ini adalah komposisi kedua yang menggunakan macapat (puisi Jawa baru) sebagai titik pijakan Jay & Gatra Wardaya dalam berkarya. (Yang pertama adalah Pangkur Mingkar-Mingkur, ditampilkan pada tahun 2012.)

Komposisi ini menggunakan teks gubahan Iman Anom berjudul Suluk Linglung yang diciptakan tahun 1884 M, sesuai sengkalan yang tertera dalam teks tersebut, “Ngerasa Sirna Sarira Ji,” yang berarti angka tahun 1806 Saka. Teks ini diadaptasi dari Kitab Duryat milik Sunan Kalijaga yang berisi ajaran hidup Sunan Kalijaga dalam menggapai makna hakikat hidup manusia dan hakikat kehidupan.

Suluk Linglung berbentuk macapat yang terbagi atas enam pupuh; (1) Bramara Ngisep Sari (Kumbang Menghisap Madu) – Dhandhanggula, (2) Kasmaran Branta (Rindu Kasih Sayang) – Asmarandana, (3) Durma, (4) Sang Nabi Khidir – Dhandhanggula, (5) Kinanthi, dan (6) Dhandhanggula. Yang ditranformasikan menjadi musik adalah pupuh ke-2, Asmarandana, sekar (bait) ke-6 dan ke-7.

Berikut adalah bait yang dimaksud:

Den becik gama nireki (perbaikilah ketidakaturan yang ada)

agama pan tata krama (agama itu tata krama)

krama –kramate Hyang Manon (kesopanan untuk kemuliaan Tuhan Yang Maha Mengetahui)

yen sira panata syarak (bila kau berpegang pada syariat)

sareh iman hidayat (serta segala ketentuan iman hidayat)

hidayat iku Hyang Agung (hidayat itu dari Tuhan Yang Maha Agung)

agung ing nugrahanira (yang sangat besar kanugrahan-Nya)

 

Kanugrahane Hyang Widhi (anugerah Tuhan)

ambawani kasubdibyan (meliputi dan menimbulkan keluhuran budi)

pangawasane pan dene (adapun kekuasaan-Nya menumbuhkan)

kadigdayan kaprawiran (kekuatan luar biasa dan keberanian)

sakabeh rehing yuda (serta meliputi segala kebutuhan perang)

tan liya nugraha luhur (yang demikian itu tidak lain adalah anugerah yang besar)

utamane kahutaman (paling utama dari segala keutamaan)

 

Sesuai interpretasi saya, teks ini bercerita tentang anjuran untuk berbuat baik sesuai syariat dan kesadaran meningkatkan rasa syukur akan anugerah Tuhan. Syariat dalam agama Islam dapat diwakili dengan lima rukun Islam. Berbuat baik diwujudkan dengan sarana lima panca indera dan lima bagian tubuh yang lepas (kepala, dua tangan, dan dua kaki).

Anugerah Tuhan yang (teramat) besar dapat dirasakan seperti energi yang besar sekali, tak dapat dihitung jumlahnya, dan barangkali sukar didefinisikan. Energi tersebut turun dari langit, keluar dari dalam bumi, dan kadangkala mengalir seperti air menyejukkan dahaga jiwa. Sifat-sifat ini memang sengaja ditegaskan di dalam interpretasi ini karena manusia tak dapat hidup tanpa anugerah-Nya, sedangkan anugerah-Nya tak dapat dicatat oleh manusia sekalipun lautan di bumi digunakan sebagai tintanya.

Setelah interpretasi atas teks dirancang, proses transformasi ke dalam musik dilakukan berdasarkan interpretasi di atas. Pada bagian awal hingga jalannya bait pertama, pad keyboard mewakili keheningan atau keadaan netral (dalam tubuh) yang dibutuhkan manusia untuk berbuat baik. Deretan frasa yang dimainkan dengan contrabass hingga akhir baris ketiga mewakili perilaku berbuat baik. Frasa ini disajikan dengan interpretasi tempo dan dinamika yang sesuka hati (ad libitum –Latin) yang menandakan perbuatan baik itu tidak serta merta dapat dilakukan konsisten.

Dari akhir baris ketiga hingga baris ketujuh, sukat 5/4 mewakili lima panca indera dan lima bagian tubuh yang lepas. Sekali lagi, 5/4 ini tidak dibawakan dengan “titik” yang pasti dengan alasan sifat inkonsistensi manusia dalam berbuat baik walaupun sudah dalam titik kesadaran penuh.

Memasuki akhir baris ketujuh hingga bait kedua baris terakhir, anugerah Tuhan digambarkan dengan drums yang berimprovisasi bebas (dalam koridor yang berkelanjutan, dinamika yang besar, dan sustaining), keyboard yang membunyikan lima nada berurutan (arpeggio) yang berbeda dan berangsur-angsur membesar registernya di setiap baris, dan contrabass yang mengikuti jalannya melodi vokal (yang juga mengadaptasi fungsi rebab).

Mulai baris terakhir hingga bagian akhir komposisi, tenor saxophone masuk dan berimprovisasi bebas dalam koridor akord F#/E, contrabass dan keyboard mengikuti apa yang dilakukan tenor saxophone, dan drums memperlebar dinamika. Akord F#/E di telinga saya memiliki sifat yang lebar dan stabil, sehingga penggabungan F#/E dengan dinamika yang lebar menimbulkan kesan atmosfer dunia yang luas, seluas anugerah Tuhan.

Untuk melodi vokal, pelog pathet 6 digunakan dengan sedikit modifikasi dengan cara mengubah tonality (simak melodi vokal pada bait kedua). Pengubahan ini diinspirasi dari cara sistem musik barat mengubah sitem nada dasar. Permainan tonality yang demikian ini dimaksudkan untuk menciptakan klimaks dalam penggambaran anugerah Tuhan. Pada frasa yang mengalami perubahan tersebut, melodi vokal dibuat dengan contour menurun untuk menggambarkan sifat anugerah Tuhan yang seakan-akan memasuki manusia dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Proses transformasi di atas berpijak pada penghidupan persona (karakter) yang terdapat di dalam teks melalui instrumen musik. Proses ini juga telah diterapkan di dalam album kedua Jay & Gatra Wardaya, Tanda Hati; Sembilan Lukisan Kata & Nada.

Dalam penampilannya, Paksi Raras (vocal), Benny Fuad (drums), Made Anggoro (contrabass), dan Pandan Purwacandra (keyboard) memberikan kontribusi yang menarik dalam memberikan penafsiran terhadap komposisi ini. Komposisi ini diciptakan dengan ruang interpretasi yang luas sehingga timbullah penafsiran yang berlapis dari setiap pemain.

I’ll See You (Again), Jen Shyu!

Belakangan ini, saya bertemu dengan beberapa seniman senior yang sungguh menginspirasi dan memberikan kesan mendalam. Salah satunya adalah Jen Shyu, yang akrab dipanggil mbak Jen.

Mbak Jen merupakan musisi berdarah Taiwan-Timor Leste berkebangsaan Amerika Serikat. Suaminya bernama Craig Taborn, yang akhir-akhir ini berkarya dan bermain bersama Chris Potter. Kedua-duanya merupakan musisi favorit saya. Selain musisi, mbak Jen juga merupakan Fulbright Scholar.

Saya pertama kali mengetahui info tentang mbak Jen lewat ulasan konser di Salihara tahun 2012 yang diliput oleh Wartajazz. Bermain secara improvisasi yang nyaris selama dua jam tanpa henti dengan format minimalis ternyata memukau penonton, salah satunya ialah Tony Prabowo yang merupakan komponis. Dari ulasan konser tersebut, saya yang tidak menonton pun tak kalah tertarik dan penasaran dengan penampilan mbak Jen.

Mencobalah saya mencari info lebih lengkap tentang mbak Jen, antara lain surfing ke Youtube, media-media online, dan situs pribadinya. Lalu saya temukan situs jenshyu.com.  Melalui biografi singkat dan diskografinya, saya jadi tahu bahwa mbak Jen merupakan vokalis dan multi-instrumentalis yang tidak hanya mengekplorasi bunyi tapi juga menjelajahi kemungkinan gerak tubuh dalam karya dan pertunjukannya.

Ada beberapa cuplikan karya dari album Jade Tongue yang bisa didengarkan di situs tersebut. Reaksi pertama saya ketika mendengarkan cuplikan tersebut adalah, “Gilak! Sangat eksploratif!” Maka dengan pengalaman seperti itu saya semakin penasaran untuk bisa bertemu langsung dan mencari kesempatan untuk belajar banyak dari mbak Jen.

Tuhan mengabulkan doa saya. Di Ngayogjazz 2012, akhirnya saya diperkenalkan dengan mbak Jen oleh mas Ajie Wartono. Pertemuan itu tepatnya setelah diselenggarakan doa bersama untuk kelancaran Ngayogjazz (malam sebelum hari-H)  oleh penyelenggara Ngayogjazz dan penduduk setempat yang terlibat. Saya dengan sedikit malu mengatakan pada mbak Jen, “I am a big fan of you,” dan mbak Jen terlihat sedikit terkejut. Hehehe…

Tapi sayangnya saya tak dapat melihat penampilannya karena jadwal mbak Jen tampil esoknya hampir bertepatan dengan jadwal saya dengan Jay & Gatra Wardaya yang tampil di panggung yang berbeda. Untungnya, nomor ponsel mbak Jen sudah saya simpan demi kelancaran kontak-mengontak kami selanjutnya.

Bulan depannya, setelah perhelatan Ngayogjazz 2012, saya ingin bertemu dengan mbak Jen untuk bicara lebih jauh tentang keinginan saya belajar kepadanya. Mbak Jen mempersilakan saya datang ke tempat tinggal sementaranya di Solo dan meminta saya membawa instrumen. Ternyata akan diadakan sesi improvisasi pertama yang diadakan mbak Jen dengan mengundang pula beberapa seniman lintas media.

Di sore hari yang cerah setelah hujan, saya datang ke sana bersama Tey. Saat kami berkenalan dulu (waktu Ngayogjazz 2012), mbak Jen pun senang mengetahui Tey yang berlatar belakang penulis, ia pun mengajak Tey untuk berpartisipasi dalam sesi improvisasi tersebut. Dengan begitu akan semakin beragam media yang digunakan dalam berimprovisasi. Selain kami juga ada dua orang penari asal Solo yang akan ikut terlibat, salah satunya ialah Danang Pamungkas. Di sesi tersebut, kami belajar berimprovisasi dengan cara yang belum pernah atau tidak biasa kami lakukan sebelumnya.

Khusus untuk saya, karena sama-sama menggunakan bunyi, mbak Jen memberikan panduan tentang interval dan kombinasi penggunaannya. Pada awalnya cukup rumit, tapi ternyata konsep tersebut sangat sederhana. Kesederhanaan itu pula yang menimbulkan beragam kemungkinan kombinasi interval yang luas dan cenderung atonal (tidak bersifat tonal atau memiliki nada dasar).

Dua orang penari, saya, satu penulis, dan mbak Jen berkolaborasi membentuk suatu karya spontan. Kami saling merespon dan direspon, mendengarkan dan didengarkan, melihat dan dilihat, merasakan dan dirasakan, dan sekaligus memberikan energi dan menerima energi satu sama lain. Kami tenggelam dalam improvisasi yang terjadi. Semakin lama durasinya, semakin liar improvisasinya, baik dalam bunyi, gerak, maupun kata-kata. Tak terasa improvisasi tersebut berlangsung selama tiga per empat jam tanpa henti.

Belum selesai dengan sesi sorenya, malamnya bertambah lagi seniman yang hadir dalam sesi tersebut. Malah beberapa di antaranya merupakan “pendekar” yang hadir dengan senang hati untuk terlibat membangun “rasa”. Di antaranya ada Mbah Prapto dari Padepokan Lemah Putih, mbak Peni Candrarini, beberapa dosen ISI Surakarta, dan beberapa seniman mancanegara yang melakukan residensi di Solo.

Sesi improvisasi di malam hari sangatlah liar, apalagi didukung dengan jumlah partisipan yang berjumlah sekitar lebih dari dua puluh orang. Tidak hanya berimprovisasi dengan media yang dikuasai, kami juga dipandu oleh mbak Jen untuk menulis apapun secara spontan sekaligus dibatasi waktu tujuh menit dengan kata kunci yang diberikan oleh salah satu partisipan.

Dari tulisan tersebut, masing-masing dari kami memilih kalimat, frasa, atau kata yang dianggap kuat atau mewakili gagasan yang kemudian ditransformasi menjadi karya pendek dan ditampilkan secara bergantian dengan cara crossfading (jika yang satu hampir selesai maka yang berikutnya menanggapi karya tersebut dan kemudian melanjutkan dengan karya pribadinya, dan berlaku seterusnya).

Dari pertemuan itu, saya lebih banyak mengenal dan berbicara dengan mbak Jen lewat improvisasi. Saya mencoba memahami dan menelusuri secara mendalam kerangka pikiran mbak Jen dan kerangka pikiran saya sendiri dan kemudian merenungkan hal tersebut sebagai sebuah upaya menep (taksu, bergerak ke dalam atau sama halnya dengan upaya mengumpulkan chi dalam tubuh manusia) atas pengalaman hari itu.

Pengalaman ini sangat kuat meresap dalam pikiran saya, hingga energi dan cara berimprovisasi yang saya dapatkan menginspirasi lahirnya karya-karya baru di album kedua Jay & Gatra Wardaya, #TandaHati. Di album ini, selain dengan konsep Lydian Chromatic Concept of Tonal Organization (bukan dengan konsep diatonis pada umumnya), saya melahirkan karya dengan pendekatan kombinasi interval yang diberikan oleh mbak Jen. Konsep ini terlihat dengan jelas salah satunya di komposisi berjudul Pada Sebuah Titik yang ditransformasikan dari puisi mas Lelaki Budiman. Karya ini saya dedikasikan untuk mbak Jen.

Selain kombinasi interval, saya menjadikan improvisasi dalam komposisi-komposisi di album #TandaHati sebagai bagian dari persona atau karakter, yang tidak hanya hadir sebagai kembangan komposisi saja namun juga menjadi bagian penting (yang jika itu dihilangkan maka bangunan komposisi menjadi runtuh).

Setelah sesi improvisasi tersebut, saya bertemu lagi dengan mbak Jen (…akhirnya) dalam satu panggung bersama Ring of Fire Project dan om Idang Rasjidi di Jazz Gunung 2013. Penampilan mbak Jen saat itu sangat berkesan bagi pendengar Jazz Gunung, apalagi dengan dibuka dengan tembang Jawa yang dibawakan langsung oleh musisi berdarah Taiwan-Timor Leste ini.

Saya khawatir itu adalah pertemuan terakhir kami karena mbak Jen harus kembali ke Korea Selatan selama enam bulan. Tapi Tuhan ternyata mempertemukan kami lagi. Kali ini, Tey yang membawa saya bertemu mbak Jen dalam rangka tugas akhir semesternya. Tey mewawancarai mbak Jen seputar kaum wanita Asia-Amerika dalam rangka kuliah pascasarjana di jurusan Studi Amerika UGM. Wawancara tersebut bisa dilihat di sini .

Tidak cukup sampai di situ, saya bertemu mbak Jen lagi atas undangannya kepada kami untuk menonton mbak Jen menari di Kraton Yogyakarta. Kesempatan ngobrol itu pun hadir lagi ketika saya menjadi partisipan dalam sesi improvisasi #4 yang diinisiasi oleh mbak Jen. Setelah itu, sehari kemudian, saya dan Tey menyaksikan pertunjukan After Dream, pertunjukan kolaborasinya dengan mbak Peni Candrarini yang diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta pada pertengahan Januari 2014 yang lalu.

Pertemuan saya dengan mbak Jen bisa dihitung dengan jari. Namun, ada nilai-nilai berharga yang saya dapatkan darinya pada pertemuan kami yang singkat ini. Mbak Jen adalah musisi yang membumi (yang bahkan bersedia hadir dalam acara ijab-qabul pernikahan saya dan Tey #NikahSaja).

Saya mengenangnya sebagai sahabat sekaligus guru dalam kehidupan saya. Saya pun berharap bahwa mbak Jen mendapatkan suatu kebaikan dan keberkahan atas keikhlasannya memberikan ilmu. Semoga mbak Jen berkenan dengan pertemuan ini. Sekarang dia telah kembali ke Amerika untuk menyelenggarakan pertunjukan berikutnya sekaligus meneruskan apa yang telah dia rajut sebelumnya.

Terima kasih banyak atas semuanya, mbak Jen. Terima kasih!

Saya & mbak Jen saat sound check Jazz Gunung 2013

Saya & mbak Jen saat sound check Jazz Gunung 2013. (Foto oleh Dias Agusta)