Rahasia Menikmati Musik yang Beraneka Ragam

Pada abad ini, musik mengalami perkembangan bentuk dan gaya yang sangat pesat. Kemudahan pertukaran informasi yang dipicu oleh akses internet menyebabkan musik dari daerah lain dapat tersebar dengan mudah dan cepat. Kita menjadi tahu bahwa ada musik Noise, Karawitan Jawa Tengah, Bebop, Free Jazz, Saluang jo Dendang, Delta Blues, Progressive Rock, Samulnori, Experimental Pop, Electronic, Trip Hop, East European Folk, hingga musik-musik kontemporer yang tidak mudah dilabeli dengan nama genre.

Pendengar dapat dengan mudah mengakses berbagai macam musik dari festival, website, radio, dan televisi. Berbagai jenis musik sudah memiliki festival sebagai wadah untuk penyajiannya. Sebagai contoh, terdapat festival musik Noise, Jazz, Rock, Blues, Karawitan, hingga festival musik khusus seperti festival untuk instrumen Harpsichord, festival musik yang disajikan berdasarkan graphic score atau notasi gambar, festival musik improvisasi, festival untuk kuartet String, festival untuk instrumen Gitar, dan masih banyak lagi.

Di internet, kita dapat dengan mudah menemukan musik-musik di atas seperti di Youtube, Vimeo, Soundcloud, dan situs penyaji audio maupun video lainnya. Di televisi dan radio, kita dapat menemukan beberapa kanal yang menyajikan musik-musik Orkestra, Jazz, Musik Dunia (World Music), dan sebagainya.

Keanekaragaman ini, di satu sisi, tidak serta merta diikuti dengan kemudahan dalam menikmatinya. Jenis musik yang bermacam-macam ini memiliki estetika yang berbeda-beda, yang akhirnya menuntut pemahaman akan musik satu dengan lainnya. Perbedaan ini dapat dinikmati dan dipahami apabila pendengar mengapresiasi musik yang beraneka ragam.

Cara yang temudah bagi pendengar untuk mengapresiasi musik yang beraneka ragam ialah dengan sering mendengarkan keanekaragaman musik itu sendiri. Aktivitas mendengarkan keanekaragaman tersebut akan menambah pengalaman atas bebunyian. Hal ini akan membentuk kebiasaan dalam mengalami bebagai macam dinamika, stuktur, tekstur, nada, warna bunyi, ritmis, hingga lapisan makna yang dikandung oleh musik-musik tersebut.

Dalam aktivitas pendengaran, mari kita bedakan antara mendengar (hearing), mendengarkan (listening), dan mendengarkan secara mendalam (deep-listening) karena ketiga hal tersebut amat berbeda. Aktivitas mendengar tidak membutuhkan perhatian yang khusus dikarenakan dapat dilakukan sambil lalu; aktivitas mendengarkan membutuhkan perhatian; aktivitas mendengarkan secara mendalam membutuhkan perhatian dan konsentrasi secara menyeluruh. Bagi pendengar awam, cobalah untuk memasuki tahap mendengarkan.

Mengalami hal baru pasti tidak mudah pada awalnya dan ini berlaku pula dalam berapresiasi. Hal-hal baru biasanya akan berbenturan dengan selera yang telah terbentuk berdasarkan perspektif pandangan yang telah terpatri. Ini merupakan hal yang wajar, seperti yang pernah diungkapkan oleh Steve Coleman, seorang saxophonis, bahwa semua hal pasti tidak mudah pada mulanya.

Selain mendengarkan, aktivitas apresiasi didukung dengan aktivitas nonmusikal, seperti mencoba berbicara dan bertanya kepada musisi (ketika setelah pertunjukan) dan mencari tahu biografi musisi dan latar belakang sejarah musik tersebut (lewat internet, buku, atau catatan rekaman). Mendengarkan musik lain yang gaya musiknya cukup dekat dengan musik yang pernah Anda dengarkan pun dapat membantu untuk memperlebar wawasan bunyi.

Anda mungkin bertanya-tanya, untuk apa kita berapresiasi? Jawabannya berkaitan dengan kebutuhan manusia dalam mendengarkan hal baru; berapresiasi akan memudahkan kita dalam mendengarkan dan menikmati keragaman musik yang begitu luas.

Aktivitas apresiasi akan membuka cakrawala pendengar akan kekayaan musik di dunia. Di samping itu, apresiasi akan menumbuhkan sikap obyektif dalam menilai musik yang beragam, baru, atau cenderung asing yang sedang kita dengarkan. Selera merupakan sesuatu yang menyebabkan hidup manusia berwarna, namun ia memiliki efek samping terhadap penilaian manusia yang cenderung subyektif. Apa yang kita anggap tidak enak saat ini tidak berhubungan dengan kualitas sebuah musik.

Ibarat menyantap makanan, lidah orang Jawa yang menyantap Gudeg tentu berbeda dengan ketika menyantap Pizza. Gudeg barangkali sudah pasti enak, tapi tidak demikian dengan Pizza yang notabene merupakan makanan yang sering disantap oleh orang Italia. Gudeg dan Pizza adalah makanan yang berbeda cita rasa, estetika, dan latar belakang sejarahnya. Maka, alangkah lebih bijak jika kita menilai kedua hal tersebut dengan penilaian yang obyektif, bukan dengan penilaian berdasarkan selera.

Seperti makanan, musik juga memikili cita rasa, estetika, dan latar belakang sejarahnya masing-masing. Dengan pandangan obyektif, pendengar dapat memiliki wawasan pengetahuan dan perspektif pandangan yang luas. Kedua hal ini dapat membentuk dan mengembangkan selera musik seseorang.

Jika Anda adalah penggemar musik Pop, cobalah untuk menyimak musik Jazz dan Noise. Jika Anda adalah penggemar musik Rock, cobalah menyimak musik Karawitan dan Pop. Jika Anda adalah penggemar musik Hip Hop, cobalah untuk datang ke festival musik kontemporer atau pementasan musik Dangdut. Ciptakan komunikasi dengan musisi setelah menonton pertunjukannya dan carilah pengetahuan di internet atau buku yang akan mendukung informasi tentang musik yang Anda nikmati. Alih-alih menggunakan istilah enak-tidak-enak sebagai penilaian, gunakan tolok ukur lain seperti dinamika, tekstur, makna lirik, atau apapun yang membuat Anda tertarik pada musik tersebut.

Pada akhirnya, aktivitas apresiasi akan menuntun kita sebagai pendengar untuk sampai pada tujuan besar dalam berapresiasi, yaitu kemudahan dalam menikmati musik yang beraneka ragam dari seluruh penjuru dunia.

Advertisements

Implikasi Kepemilikan Kendaraan Bermotor Pribadi Secara Massal

Belakangan ini saya merindukan transportasi umum. Dulu ketika saya masih SMP, saya sering naik bis Kopata dan Kobutri pulang pergi dari rumah ke sekolah. Sekarang nampaknya transportasi umum sudah semakin hilang dan tidak memadai bagi penggunanya. Masih ada sih TransJogja. Tapi… Bagaimana orang mau menggunakan bis jika jalanan semakin padat tak terkendali dan angkutannya kurang nyaman?

Demi mencapai tujuan dengan cepat, saya mau tidak mau beralih ke kendaraan pribadi (dalam hal ini sepeda motor). Seringnya saya menggunakan kendaraan pribadi membuat saya mengamati keadaan dan perilaku saya pribadi dan sekitarnya. Saya menyimpulkan beberapa hal tentang implikasi kepemilikan kendaraan bermotor pribadi secara massal.

  1. Kemacetan

Sudah bukan hal yang asing lagi. Volume dan jumlah kendaraan yang berlebihan di ruas jalan yang terbatas menyebabkan arus kendaraan tersendat. Secara logika, kendaraan membutuhkan ruang yang cukup untuk bergerak. Jika ruang-ruang ini semakin sempit, maka laju kendaraan akan tersendat. Cobalah untuk mengamati “efek mulut botol”.

  1. Pengeluaran yang Tidak Mangkus

Dengan kemacetan, kendaraan akan lebih banyak mengerem-mengegas yang mengakibatkan bahan bakar lebih cepat berkurang. Akibatnya ya tentu saja isi dompet kita akan cepat habis. Apalagi memiliki kendaraan pribadi akan diikuti pula dengan biaya pemeliharaan kendaraan, pajak kendaraan, dan biaya perpanjangan STNK dan BPKB yang jumlahnya aduhai. Statistik menyatakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan hingga 35% biaya dari pendapatannya untuk transportasi, sedangkan masyarakat negara-negara yang transportasi umumnya maju hanya mengeluarkan 3-8% biaya dari pendapatannya.

  1. Kualitas psikis dan pemikiran menurun

Ketika saya menggunakan transportasi umum di Korea di tahun 2014, saya hampir tidak pernah emosional. Dibandingkan di Indonesia, pisuhan (umpatan) seperti koleksi kebun binatang lebih mudah cepat keluar karena kita dibuat tidak sabar berkali-kali karena kemacetan dan tersendatnya perjalanan kita. Di sisi lain, kepemilikan kendaraan pribadi dan buruknya transportasi umum memicu kemalasan untuk berjalan kaki. Coba Anda lihat di sekeliling (dan mungkin kita sendiri), orang lebih memilih naik motor untuk pergi menuju tempat yang hanya berjarak kurang dari 200 m.

  1. Arus lalu lintas tidak teratur

Selain volume dan jumlah kendaraan, adanya sepeda motor dan mobil di satu ruas jalan menyebabkan arus lalu lintas yang tidak teratur. Ini disebabkan karena ritme sepeda motor dan mobil berbeda. Percepatan dan kecepatan mereka berbeda. Bagi yang bisa mengendarai kedua kendaraan tersebut, saya jamin Anda bisa merasakan perbedaannya. Di sisi lain, kendaraan beroda dua cenderung lebih tidak teratur dalam penempatan posisi di ruas jalan dibandingkan dengan kendaraan beroda empat.

  1. Polusi udara

Jumlah kendaraan yang terlampau banyak akan melepaskan partikel-partikel beracun yang keluar dari knalpot. Lebih parah lagi karena ditambahkan dengan jenis kendaraan yang mengonsumsi bahan bakar yang berbeda-beda seperti bensin, solar, pertamax, bio solar, dsb. yang tingkat emisinya tidak semuanya rendah. Di Korea, transportasi (bis dan mobil) sudah menggunakan CNG. Menurut salah satu murid istri saya (murid tersebut berkewarganegaraan Jepang), penggunaan sepeda motor dilarang di Jepang karena mengotori lingkungan. Dia heran dengan jumlah kendaraan bermotor buatan Jepang yang banyaknya luar biasa di Indonesia.

  1. Polusi suara

Entah mungkin karena negara ini tidak peduli dengan standard emisi dan kebisingan, jalanan akhirnya semakin diperparah dengan adanya polusi suara. Polusi ini dihasilkan dari suara mesin dan klakson yang dibunyikan tidak pada tempatnya. Telinga manusia tidak memiliki mekanisme pertahanan diri, tidak seperti mata yang memiliki kelopak dan pupil untuk melindungi diri dari cahaya. Lucunya, hampir semua orang tidak menyadari akan bahaya besar ini. Menurut pengamatan mas Slamet Abdul Sjukur, seorang komponis yang juga aktif dalam gerakan Masyarakat Bebas Bising, sudah ada kasus kehilangan pendengaran yang “tidak diketahui penyebabnya”.

  1. Polisi tidur

Dengan terlampau padatnya kendaraan di jalur utama, orang akan mencari jalan pintas yang biasanya terletak di dalam kompleks tempat tinggal. Masalahnya, warga setempat pasti tidak suka kalau jalanan berisik. Demi memperbaiki keadaan, dibuatlah polisi tidur untuk menghambat laju kendaraan. Polisi tidur terbuat dari aspal, semen, bekas ban motor, atau yang terkini saya temukan di Bukittinggi; balok kayu. Polisi tidur hanya akan menghambat laju kendaraan, memperlambat waktu tempuh, membuat pengeluaran bahan bakar semakin boros, dan membuat geram karena polisi tidur yang terkadang tidak kelihatan. Polisi tidur merupakan cerminan masyarakat yang menyelesaikan masalah dengan menambah masalah.

  1. Kesehatan manusia berkurang

Selain polusi udara dan polusi suara, terlalu lama di jalan menyebabkan orang terlalu lama duduk. Ini tidak baik terutama bagi kesehatan jantung dan ruas tulang belakang kita. Kalau menggunakan transportasi umum, badan akan dituntut untuk bergerak karena kita mesti jalan kaki (atau lari, dalam kasus saya di Korea) ke halte dulu, berdiri di dalam bis (karena tempat duduk terbatas), dan berjalan dari halte ke tempat tujuan. Hal ini masih lebih baik daripada terlalu lama duduk di kendaraan.

  1. Jam karet

Merujuk ke implikasi nomor 1, kemacetan juga mengakibatkan tersendatnya perjalanan sehingga waktu tempuh yang dilalui akan bertambah. Memang itu bisa diakali dengan berangkat lebih awal dari tempat asal. Namun, jika dalam jarak dekat waktu tempuhnya dua hingga tiga kali batas normal, dapat dibayangkan kita akan menjadi tua di jalan.

  1. Meningkatnya kecelakaan lalu lintas

Laju transportasi umum darat dikendalikan oleh supir atau masinis dengan berbekal pengetahuan, latihan, simulasi, dan pengalaman tertentu. Mereka akan lebih menjaga integritas dalam berkendara karena nyawa, keselamatan penumpang, dan waktu menjadi tanggung jawabnya. Sedangkan di kendaraan pribadi, tanggung jawab tersebut adalah cenderung milik perorangan. Dengan kemampuan berkendara orang yang berbeda-beda, ritme kendaraan akan berbeda dan meningkatkan peluang munculnya kecelakaan lalu lintas. Belum lagi jika si pengendara punya SIM dengan cara “nembak” padahal si pengendara belum layak menjadi pengendara.

  1. Kemunculan tukang parkir dadakan dan pembengkakan lahan parkir

Makin banyaknya kendaraan pribadi ini menyebabkan kendaraan yang diparkir menjadi lahan bisnis bagi tukang parkir dadakan. Tukang-tukang parkir ini tidak semuanya resmi. Kebanyakan dari mereka memanfaatkan situasi ini untuk menaikkan tarif parkir hingga lebih dari 100%. Selain itu, lahan-lahan yang ada menjadi lahan parkir liar yang biasanya merebut ruas jalan dan ruas trotoar.

Epilog

Solusi terbaik untuk mengatasi situasi di atas tidak lain hanyalah transportasi umum yang bagus dalam segi sistem dan sarana. Masyarakat tidak hanya menginginkan adanya transportasi umum saja, tapi juga menginginkan transportasi umum yang sarananya nyaman, jumlahnya yang diperbanyak, dan ketepatan waktu yang diperbaiki. Jika hal ini diperjuangkan, saya yakin masyarakat akan dengan senang hati menggunakan transportasi umum.

Disunting pada tanggal 28 September 2015.

image credit: http://s1.cdn.autoevolution.c

Pertemuan Saya dengan Saluang

Saya terlahir dalam garis keturunan separuh Minangkabau (Minang). Bapak saya lahir di Bukittinggi, sedangkan Ibu saya lahir di Cilacap dan memiliki garis keturunan Cina. Saya dua bersaudara dengan seorang adik perempuan. Dulu kami tinggal di Cilacap, namun pada akhir tahun 1999 kami sekeluarga pindah ke Yogyakarta.

Bapak saya bekerja sebagai pengawas listrik di kapal perusahaan pupuk. Beliau jarang sekali pulang ke rumah karena lebih sering berada di laut. Pekerjaan pengawasan listrik kapal hingga saat ini jarang diminati orang. Akibatnya, hanya sedikit orang yang bekerja di bidang tersebut dan konsekuensinya Bapak saya mendapatkan tuntutan kerja yang lebih banyak. Kami pun jarang bertemu.

Saya dibesarkan dalam lingkungan berbahasa Indonesia. Dulu, belajar bahasa Jawa atau Minang pun malas-malasan. Di pelajaran Muatan Lokal alias Mulok, bahasa Jawa menjadi pelajaran sampingan dan nilai ujian saya tidak pernah lebih dari 40%.

Ketika pindah ke Yogyakarta, saya jadi kagok karena tidak bisa berbahasa Jawa. Pernah saat bertemu saudara jauh dari garis keluarga Bapak, saya pun roaming ketika mendengarkan percakapan mereka dalam bahasa Minang.

Pernah saya minta diajari bahasa Mandarin kepada Ibu saya, namun beliau sering menolak. Sepertinya trauma akan rezim Soeharto yang mencabik-cabik kehidupan orang Cina di Indonesia masih membekas. Saya pun menjadi tak termotivasi untuk belajar bahasa Mandarin.

Ketertarikan pada budaya keluarga sendiri nampaknya belum menjadi fokus saya pada saat itu. Adik saya masuk ke Sekolah Menengah Musik Yogyakarta dan mengambil jurusan Violin. Sering saya menonton dia konser dengan orkestra sekolah maupun dengan ansambelnya di luar sekolah. Saya perlahan larut dalam musik Klasik Eropa dan mulai belajar gitar klasik.

Pernah saya bergabung dengan ansambel musik remaja di TBY. Saya gak ada apa-apanya dibandingkan dengan teman-teman saya yang jago primavista. Akhirnya, saya mulai belajar aransemen dengan menulis notasi di komputer dengan otodidak. Dari situ, saya mulai mencari referensi musik orkestra dan ansambel.

Ketika masuk kuliah di Ilmu Komputer UGM, saya sempat bergabung dengan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UGM. Tapi kemudian saya malas-malasan ikut latihan hingga pada suatu saat PSM angkatan saya akan melakukan konser. Saya berinisiatif membentuk string ensemble untuk mengiringi PSM dengan dibantu teman saya yang juga merupakan teman di PSM, mas Andre. Di situlah ilmu aransemen saya terpakai lagi.

Ansambel tersebut akhirnya menjadi UKM bernama Gadjah Mada Chamber Orchestra. Entah kenapa saya menjadi disorientasi, hingga akhirnya saya memutuskan untuk membeli Saxophones bekas dan mencari guru. Dengan modal nekat, saya mendaftarkan diri di Institut Seni Indonesia dan meninggalkan kuliah Ilmu Komputer UGM.

Sontak Ibu saya marah besar mendengar kabar itu. Namun, saya mencoba meyakinkan orang tua saya dan saat itu Bapak lah yang merestui keinginan saya. Saya lalu belajar keras untuk mengejar ketertinggalan.

Semangat dalam perkuliahan di kampus baru, saya makin larut dalam musik jazz dan musik klasik kontemporer. Segala loka karya, seminar, pentas di dalam dan luar kampus, hingga kegiatan musik dan nonmusik di beberapa komunitas musik saya ikuti. Karena pengalaman ini, pengetahuan akan musik Nusantara terbuka perlahan-lahan.

Tahun 2011. Mulai sadar akan budaya keluarga sendiri, saya mulai mencari informasi kepada Bapak tentang Saluang dan musik Minang. Beliau kemudian menghubungi sepupu di kampuang nan jauah di mato untuk meminta dikirimi VCD musik Minang dan Saluang. Selang satu minggu kemudian, kiriman paket sampai di tangan.

Betapa girangnya saya. Tapi, ternyata memainkan Saluang itu sulit sekali. Membunyikannya pun tak mampu. Lagi-lagi, saya patah semangat. Pernah saya berpikir untuk mencari guru Saluang, tapi waktu tak bisa berkompromi.

Singkat cerita, di tahun 2013 saya mendapatkan kado Saluang dari pacar saya (sekarang menjadi istri saya). Nampaknya ini bukan sekadar kado; dia memaksa saya untuk menyempatkan diri belajar budaya keluarga. Tapi apa daya, saya baru bisa memiliki waktu belajar Saluang di tahun berikutnya.

Iya, di tahun berikutnya. Adalah sepeninggal Bapak saya di awal Februari yang menjadi cambuk bagi saya untuk meneruskan budaya keluarga. Saya seperti terpanggil untuk giat belajar Saluang. Di bulan yang sama, saya berusaha mencari guru dan ingin segera memulai sesi agar saya pun tidak larut dalam kesedihan.

Bertemulah saya dengan Purwanto, mahasiswa Etnomusikologi ISI Yogyakarta. Hanya sempat bertemu dua kali karena waktu yang tidak berjodoh, saya mencari guru kedua. Uda Beni, mahasiswa S2 ISI Yogyakarta, menjadi guru saya berikutnya. Kami hanya bertemu sekali saja dan tidak ada sesi kelas resmi.

Waktu itu saya tidak punya waktu banyak karena sedang mempersiapkan segala sesuatu dalam rangka fellowship di Korea. Nah, setelah berada di Korea, saya memiliki waktu banyak untuk belajar Saluang secara mandiri dengan hanya berbekal ingatan atas apa yang pernah saya pelajari dari guru-guru saya dan VCD lagu Saluang yang saya dapatkan tiga tahun yang lalu.

Beginilah proses saya dalam berlatih Saluang : saya bisa menghasilkan bunyi dalam dua minggu latihan, saya bisa meniup dengan agak stabil dalam dua bulan latihan, kemudian saya bisa mempraktikkan napas putar dalam empat hingga lima bulan latihan. Sungguh ini merupakan instrumen paling sulit yang pernah saya mainkan!

Betapapun sulitnya instrumen ini dimainkan, saya jatuh hati pada Saluang dan musik Minang.

Kini, saya tidak hanya ingin menjadi pemain Saxophones saja. Juga tidak hanya ingin menjadi orang-bertampang-dan-berlatar-belakang-Indonesia yang memainkan musik barat saja. Saya harus memiliki suara saya dalam bermusik. Beruntungnya, saya memiliki itu yang berasal dari keluarga besar.

Tugas utama saya sekarang adalah menanamkan itu dalam diri saya dan menerjemahkannya ke dalam bahasa musik saya sehingga menjadi—apa yang saya pahami sebagai—tradisi.

Dan perjalanan pun dimulai…

Catatan :

Saluang merupakan instrumen musik dari Sumatera Barat, Indonesia. Bentuknya tabung silinder panjang dengan empat lubang. Tidak seperti kebanyakan suling yang dimainkan secara horizontal atau vertikal, Saluang dimainkan dengan cara diagonal dengan meniup bagian atas tabung membentuk sudut perpendicular. Teknik khas yang dipakai dalam memainkan Saluang adalah napas putar atau manyisiahkan angok. Secara tradisional, Saluang dimainkan dalam perayaan domestik seperti malam bagurau (fundraising) dan pesta kecil. Dan Saluang biasa dimainkan antara setelah Isya’ sampai sebelum Shubuh.

Izinkan Telinga Mendengarkan Detak Jantung & Hembusan Napas

Berbahagialah kita yang diberikan kemampuan mendengar oleh Tuhan. Betapa nikmatnya kita yang dapat mendengarkan bermacam-macam bunyi, sehingga citra yang tertangkap oleh tubuh kita serasa memiliki dimensi yang berlapis-lapis.

Bunyi yang kita tangkap ini tidak terlihat oleh indera penglihatan. Karena tidak terlihat, banyak sekali orang yang meremehkan dampak yang ditimbulkan akibat bunyi yang terlalu keras dengan rentang waktu lama dan/atau bunyi tak teratur yang dihasilkan dan ditangkap tidak pada tempatnya.

Keras lemahnya bunyi diistilahkan dengan amplitudo, dengan satuan decibel (dB).

Telinga kita memiliki ambang batas kekerasan. Di daerah koklea, terdapat sekitar 15.000 sel rambut yang berfungsi sebagai reseptor bunyi. Pada manusia dan mamalia, kerusakan pada sel rambut akibat kebisingan tidak dapat ditanggulangi karena sel rambut yang rusak tidak dapat diproduksi lagi oleh tubuh.

Gambar berikut memberikan gambaran singkat tentang tingkat kekerasan beserta contohnya.

Dikutip dari telinga-hati.blogspot.com

Dikutip dari telinga-hati.blogspot.com

Mulailah peduli pada kesehatan telinga kita. Jika terpaksa mengalami keadaan yang sangat bising, setelah itu masuklah ke ruangan yang tenang atau pergilah ke tempat yang menenangkan. Tiadakan seluruh kegiatan bunyi, jika memungkinkan, termasuk musik. Nikmatilah relaksasi tersebut dan izinkan telinga kita mendengarkan detak jantung dan hembusan napas kita sendiri.

Tentang 2014 International Fellowship in Study of Korean Music

Disclaimer: Tulisan ini tadinya merupakan PR saya dalam mengikuti kursus bahasa Inggris bulan lalu. Karena mungkin ini akan berguna bagi orang lain, saya menerjemahkan PR ini ke dalam bahasa Indonesia, menyuntingnya, dan mempublikasikannya di blog ini. Semoga bermanfaat!

Tahun ini saya mendapatkan kesempatan melakukan residensi dalam program 2014 International Fellowship in Study of Korean Music dari 12 Juni sampai dengan 6 November. Program ini diselenggarakan oleh National Gugak Center sebagai bagian dari Cultural Partnership Initiative (CPI) Project yang dijalankan oleh Ministry of Culture, Sports, & Tourism of Korea.

Dalam program ini, saya berencana mempelajari Piri (salah satu instrumen musik Korea) dan meneliti aspek musikal, budaya, & sosial dalam musik Korea. Piri merupakan instrumen tiup vertikal dan berbuluh ganda (double-reed).

Perkenalan pertama saya pada musik Korea adalah ketika Jen Shyu (salah satu teman saya yang tinggal di US, Fulbright Scholar) memainkan Gayageum (instrumen petik Korea) saat istri saya mewawancarainya di Solo tahun lalu. Saya begitu tertarik dengan alat musik tersebut, walaupun saya belum mempunyai referensi dan pengalaman apapun tentang musik Korea.

Bulan Februari lalu, istri saya menunjukkan informasi tentang program fellowship ini dan saya tertarik. Maka, saya menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan seperti CV, proposal, formulir aplikasi, salinan ijazah, salinan paspor, dan tiga surat rekomendasi. Untuk surat rekomendasi, saya memohon kepada mbak Jen Shyu, mas Djaduk Ferianto, dan mas Ajie Wartono (WartaJazz, penyelenggara workshop & festival musik) untuk berkenan menuliskannya. Mbak Jen sendiri merupakan peserta program fellowship yang sama tahun lalu.

Ketika menghubungi mbak Jen, saya disarankan olehnya untuk memilih salah satu instrumen Korea sebagai alat musik utama yang akan saya pelajari. Beliau memberikan beberapa pilihan; Taepyongso, Piri, atau Saenghwang. Semuanya alat tiup, karena saya pemain Saxophone. Taepyongso berbunyi mirip Slompret Ponorogo, Piri berbunyi seperti Oboe, dan Saenghwang berbunyi seperti akordeon. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memilih Piri.

Berkas-berkas yang sudah siap akhirnya saya kirimkan via email. Saya benar-benar grogi. Tiba-tiba saya merasa tidak percaya diri. Ini merupakan pengalaman ke-10 saya dalam mendaftar program fellowship maupun program festival kesenian dalam tiga tahun terakhir. Kesembilannya yang lalu telah gagal. Ada kekhawatiran bahwa usaha ke-10 saya ini pun akan gagal.

Tiga minggu kemudian, saya menerima pengumuman yang menyatakan bahwa saya diterima dalam program ini. Saya mbrambangi. Gembeng yo ben. Saya langsung memeluk istri saya dan bersyukur. Saya pun segera mengabarkan berita baik ini kepada mbak Jen, mas Djaduk, dan mas Ajie.

Saya tidak terlalu yakin faktor apa yang membuat saya diterima di dalam program ini. Saya tidak tahu pasti. Walaupun begitu, saya meyakini bahwa usaha yang saya lakukan sebelum mendaftar program ini telah membantu saya dalam mendapatkan kesempatan ini.

Seperti usaha dalam menemukan “ke-Indonesia-an” dalam diri saya sendiri yang saya lakukan dalam beberapa tahun terakhir ini.  Mempelajari musik Indonesia dan menemukan hal kontemporer yang berakar dari Indonesia serta kearifan lokal adalah hal yang berusaha saya tempuh. Untuk saat ini, mempelajari musik Jawa dan musik Minang menjadi jalan terdekat, karena sesuai dengan keadaan kehidupan saya yang tinggal di Yogyakarta dan memiliki latar belakang keluarga (dari pihak ayah) yang berasal dari Bukittinggi.

Tidak bisa dipungkiri, jazz dan musik barat memang lekat pada diri saya, namun saya tak cukup puas sampai di situ saja. Bukannya lebay. Kenyataannya, hidup saya yang cukup kental dalam pengaruh budaya barat membuat saya hampir lupa akar budaya saya sendiri. Dari situ saya mulai kembali menggali akar budaya saya sendiri dengan mempelajari musik Jawa dan Minang.

Selain itu, saya juga belajar memperbaiki penulisan CV dan proposal yang biasanya menjadi salah satu persyaratan dalam pengajuan program fellowship maupun festival kesenian. Saya meyakini bahwa CV dan proposal tersebut dapat membantu saya dalam membangun brand image, karena CV adalah salah satu media untuk menunjukkan prestasi dan pencapaian kita, sedangkan proposal adalah media untuk menunjukkan maksud kita dalam mengikuti program tersebut.

Satu hal lagi, link atau hubungan baik dengan orang lain yang seprofesi maupun tidak seprofesi juga sangat penting dalam kehidupan sosial maupun untuk mendukung karir saya sebagai musisi. Sebenarnya tak perlu dijelaskan lagi mengapa hal ini sangat penting, teman-teman pembaca pasti sudah mengetahuinya.

Saya berharap tulisan ini dapat menginspirasi teman-teman, khususnya musisi yang mencari kesempatan berpengalaman dalam program di luar negeri. Baik untuk mempelajari musik dari negeri lain maupun untuk mempromosikan musik Indonesia, atau bisa juga dua-duanya seperti yang sedang saya lakukan saat ini dalam program fellowship ini.

Tentunya masih banyak hal yang harus saya tingkatkan dalam berkesenian. Evaluasi terhadap diri saya sendiri harus dilakukan. Saya juga berharap teman-teman bersedia berbagi pengalaman. Siapa tahu kita bisa saling melengkapi pembelajaran kita dengan bertukar pengalaman.

Semoga menginspirasi!

PS: Terima kasih kepada semua teman-teman yang telah berbagi pengetahuan dan berproses bersama-sama!

Kosong…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Adakalanya menciptakan ruang kosong menjadi hal yang mutlak dilakukan, demi mengisi kembali semangat, ide segar, dan hati yang enteng. Sekian dan terima gaji. 😀

Apresiasi Puisi di Masa Kini

Chairil Anwar; "Si Binatang Jalang" pelopor Angkatan '45

Chairil Anwar; “Si Binatang Jalang” pelopor Angkatan ’45

Hari ini, 26 Juli, diperingati sebagai Hari Puisi Indonesia berdasarkan tanggal lahir Chairil Anwar. Tanggal tersebut dipilih karena Chairil Anwar memberikan dedikasi atas kebangkitan puisi modern di Indonesia.

Peringatan ini merupakan hasil deklarasi yang dibacakan oleh Sutardji Calzoum Bahri yang didampingi oleh 40 penyair. Dengan demikian, untuk pertama kalinya Indonesia memiliki hari monumental untuk merayakan puisi Indonesia.

Puisi, dengan keanekaragamannya, perlahan mengambil posisi penting dalam bangsa ini. Ia hadir dengan kekuatan yang digawangi tidak hanya oleh penyair yang sudah ada tetapi oleh penyair-penyair muda yang mulai bermunculan.

Kuantitas yang menggembirakan ini harus dibarengi dengan kualitas yang mumpuni. Di koran, pernah ada pengamat sastra yang menulis bahwa dunia perpuisian (khususnya di Yogyakarta) masih didominasi oleh komunitas sastra saja alias belum menjadi milik khalayak. Masyarakat belum bisa akrab dengan acara pembacaan puisi. Ini ditandai dengan pendengarnya yang kebanyakan adalah sastrawan sendiri yang berasal dari komunitasnya sendiri, komunitas lain, maupun dari “sastrawan lepas”.

Masyarakat pada umumnya masih beranggapan bahwa puisi itu ketinggalan zaman dan terkesan “kaya wong tuwa”. Buku-buku puisi belum bisa bersanding dengan deretan buku-buku cerpen dan novel di toko buku. Bagaimana buku puisi bisa bersanding di sana, sedangkan masyarakat lebih berminat mengoleksi cerpen dan novel ketimbang buku puisi?

Padahal, puisi berada di mana saja. Di status media sosial, di media cetak dan online, bahkan di baliho yang berbalut iklan. Dengan keluwesan, keindahan, dan kekuatannya, kata-kata itu menjadi medium yang bermakna dan mampu memengaruhi masyarakat walaupun tanpa disadari medium itu bernilai puisi. Puisi sebenarnya melekat di kehidupan masyarakat.

Mengapresiasi puisi bisa dilakukan juga dengan memilih puisi sebagai sumber idenya dalam karya seni maupun karya ilmiah. Kepuasan dalam menggali makna dan keindahan puisi (untuk dijadikan karya seni dengan mengadaptasi puisi) bisa jadi menyamai dan bahkan dapat melebihi media sastra yang lain seperti biografi, teks sejarah dan nonfiksi, cerpen, dan novel. Puisi, dengan ketebalan lapisan makna di dalam dan di antara rangkaian kata-kata, mampu meliarkan imajinasi kita.

Salah satu karya seni yang akrab dengan puisi adalah musik puisi (atau musikalisasi puisi, lagu puisi, puisi bernyanyi, dan berbagai istilah lain). Musik puisi memiliki kekuatan yang menakjubkan karena musik puisi menyajikan puisi dengan cara memberikan penegasan, melapiskan makna, dan menggali bebunyian yang dihasilkan oleh puisi tersebut.

Sama halnya dengan acara pembacaan puisi, nasib musik puisi pun sama. Dengan gaya yang itu-itu saja dan penggalian ide atas puisi yang monoton, musik puisi pada umumnya belum mampu memikat masyarakat. Sebabnya, sedikit sekali komponis yang menggubah musik berdasarkan puisi, sehingga keberadaannya semakin tenggelam oleh penciptaan lagu (song writing). Di sisi lain, musik puisi banyak dilahirkan dari seniman nonmusisi, seperti seniman teater dan seniman sastrawan, sehingga eksplorasi bunyinya dirasa masih kurang. Apalagi kenyataannya dibarengi dengan perdebatan tentang bagaimana yang pantas disebut musik puisi ataupun perdebatan mengenai istilahnya yang tak kunjung berakhir, namun tak dibarengi dengan semangat berkarya musik puisi.

Alm. Mas Hari Leo AER pernah mengatakan kepada saya bahwa harus ada kerja sama antara komponis dan penyair demi terciptanya musik puisi yang berkualitas tinggi. Artinya, ada diskusi antara seniman yang memahami musik dan seniman yang memahami sastra. Bisa jadi seorang seniman dapat berbekal pengetahuan (bahkan berlatar belakang pendidikan) musik dan sastra sekaligus.

Selain musik puisi, karya-karya lainnya seperti seni rupa, teater, desain grafis, dan film dapat menjadi karya adaptasi atas puisi. Puisi memiliki kemungkinan yang sangat luas untuk direspon. Satu puisi saja bisa memiliki berbagai kemungkinan karya musik puisi dari komponis yang berbeda-beda, apalagi satu puisi direspon ke dalam media yang lain? 😀

Mengadaptasi puisi adalah hal yang menyenangkan. Bagi yang belum pernah, jangan ragu dan takut untuk melakukannya. William S. Burroughs, novelis Amerika, mengatakan, “The work of other writers is one of writer’s main sources of input, so don’t hesitate to use it; just because somebody else has an idea doesn’t mean you can’t take the idea and develop a new twist for it; adaptations may become quite legitimate adoptions.”

Saya berharap, banyaknya apresiasi yang baik terhadap puisi dapat mendidik masyarakat secara tidak langsung bahwa puisi merupakan karya seni yang melekat di kehidupan manusia.

Sebagai kesimpulan, lewat momentum Hari Puisi Indonesia, mari kita tingkatkan kesadaran apresiasi terhadap puisi. Bagi seniman dan pemerhati sastra (saya dan siapapun itu), mari mengevaluasi lagi paradigma yang diterima oleh masyarakat tentang puisi saat ini.

Puisi itu indah dan mengindahkan hidup kita. Puisi itu kuat dan menguatkan bangsa kita. Puisi itu tanda dan menandai fenomena manusia.

(buah pikiran untuk Hari Puisi Indonesia dari Jay Afrisando; komponis dan saxophonis. Tinggal di Yogyakarta.)