Jay & Gatra Wardaya dari Tahun ke Tahun

Tiba-tiba iseng buka folder foto-foto Jay & Gatra Wardaya. Lalu saya jadi pingin unggah foto-foto Jay & Gatra Wardaya dari tahun ke tahun.

2011

 

 

2012

 

 

2013

 

 

2014

 

 

2015

 

Sumber foto :

@adicahcilik, Nine Photoworks, Praswa Jati, Mega Novetrishka (Jazzuality.com), swaragamajogja.com, Ilyas Prakananda, Pamityang2an Qwerty Radio, Terry Perdanawati, Thomas Dian, & Domenico Khalik Nugrahanta.

 

Advertisements

Suluk Linglung; Kasmaran Branta (Asmarandana) Sekar 6 & 7

Judul di atas merupakan komposisi terbaru yang ditampilkan bersama Jay & Gatra Wardaya 30 April lalu di Teater Garasi dalam rangka International #JazzDay. Ini adalah komposisi kedua yang menggunakan macapat (puisi Jawa baru) sebagai titik pijakan Jay & Gatra Wardaya dalam berkarya. (Yang pertama adalah Pangkur Mingkar-Mingkur, ditampilkan pada tahun 2012.)

Komposisi ini menggunakan teks gubahan Iman Anom berjudul Suluk Linglung yang diciptakan tahun 1884 M, sesuai sengkalan yang tertera dalam teks tersebut, “Ngerasa Sirna Sarira Ji,” yang berarti angka tahun 1806 Saka. Teks ini diadaptasi dari Kitab Duryat milik Sunan Kalijaga yang berisi ajaran hidup Sunan Kalijaga dalam menggapai makna hakikat hidup manusia dan hakikat kehidupan.

Suluk Linglung berbentuk macapat yang terbagi atas enam pupuh; (1) Bramara Ngisep Sari (Kumbang Menghisap Madu) – Dhandhanggula, (2) Kasmaran Branta (Rindu Kasih Sayang) – Asmarandana, (3) Durma, (4) Sang Nabi Khidir – Dhandhanggula, (5) Kinanthi, dan (6) Dhandhanggula. Yang ditranformasikan menjadi musik adalah pupuh ke-2, Asmarandana, sekar (bait) ke-6 dan ke-7.

Berikut adalah bait yang dimaksud:

Den becik gama nireki (perbaikilah ketidakaturan yang ada)

agama pan tata krama (agama itu tata krama)

krama –kramate Hyang Manon (kesopanan untuk kemuliaan Tuhan Yang Maha Mengetahui)

yen sira panata syarak (bila kau berpegang pada syariat)

sareh iman hidayat (serta segala ketentuan iman hidayat)

hidayat iku Hyang Agung (hidayat itu dari Tuhan Yang Maha Agung)

agung ing nugrahanira (yang sangat besar kanugrahan-Nya)

 

Kanugrahane Hyang Widhi (anugerah Tuhan)

ambawani kasubdibyan (meliputi dan menimbulkan keluhuran budi)

pangawasane pan dene (adapun kekuasaan-Nya menumbuhkan)

kadigdayan kaprawiran (kekuatan luar biasa dan keberanian)

sakabeh rehing yuda (serta meliputi segala kebutuhan perang)

tan liya nugraha luhur (yang demikian itu tidak lain adalah anugerah yang besar)

utamane kahutaman (paling utama dari segala keutamaan)

 

Sesuai interpretasi saya, teks ini bercerita tentang anjuran untuk berbuat baik sesuai syariat dan kesadaran meningkatkan rasa syukur akan anugerah Tuhan. Syariat dalam agama Islam dapat diwakili dengan lima rukun Islam. Berbuat baik diwujudkan dengan sarana lima panca indera dan lima bagian tubuh yang lepas (kepala, dua tangan, dan dua kaki).

Anugerah Tuhan yang (teramat) besar dapat dirasakan seperti energi yang besar sekali, tak dapat dihitung jumlahnya, dan barangkali sukar didefinisikan. Energi tersebut turun dari langit, keluar dari dalam bumi, dan kadangkala mengalir seperti air menyejukkan dahaga jiwa. Sifat-sifat ini memang sengaja ditegaskan di dalam interpretasi ini karena manusia tak dapat hidup tanpa anugerah-Nya, sedangkan anugerah-Nya tak dapat dicatat oleh manusia sekalipun lautan di bumi digunakan sebagai tintanya.

Setelah interpretasi atas teks dirancang, proses transformasi ke dalam musik dilakukan berdasarkan interpretasi di atas. Pada bagian awal hingga jalannya bait pertama, pad keyboard mewakili keheningan atau keadaan netral (dalam tubuh) yang dibutuhkan manusia untuk berbuat baik. Deretan frasa yang dimainkan dengan contrabass hingga akhir baris ketiga mewakili perilaku berbuat baik. Frasa ini disajikan dengan interpretasi tempo dan dinamika yang sesuka hati (ad libitum –Latin) yang menandakan perbuatan baik itu tidak serta merta dapat dilakukan konsisten.

Dari akhir baris ketiga hingga baris ketujuh, sukat 5/4 mewakili lima panca indera dan lima bagian tubuh yang lepas. Sekali lagi, 5/4 ini tidak dibawakan dengan “titik” yang pasti dengan alasan sifat inkonsistensi manusia dalam berbuat baik walaupun sudah dalam titik kesadaran penuh.

Memasuki akhir baris ketujuh hingga bait kedua baris terakhir, anugerah Tuhan digambarkan dengan drums yang berimprovisasi bebas (dalam koridor yang berkelanjutan, dinamika yang besar, dan sustaining), keyboard yang membunyikan lima nada berurutan (arpeggio) yang berbeda dan berangsur-angsur membesar registernya di setiap baris, dan contrabass yang mengikuti jalannya melodi vokal (yang juga mengadaptasi fungsi rebab).

Mulai baris terakhir hingga bagian akhir komposisi, tenor saxophone masuk dan berimprovisasi bebas dalam koridor akord F#/E, contrabass dan keyboard mengikuti apa yang dilakukan tenor saxophone, dan drums memperlebar dinamika. Akord F#/E di telinga saya memiliki sifat yang lebar dan stabil, sehingga penggabungan F#/E dengan dinamika yang lebar menimbulkan kesan atmosfer dunia yang luas, seluas anugerah Tuhan.

Untuk melodi vokal, pelog pathet 6 digunakan dengan sedikit modifikasi dengan cara mengubah tonality (simak melodi vokal pada bait kedua). Pengubahan ini diinspirasi dari cara sistem musik barat mengubah sitem nada dasar. Permainan tonality yang demikian ini dimaksudkan untuk menciptakan klimaks dalam penggambaran anugerah Tuhan. Pada frasa yang mengalami perubahan tersebut, melodi vokal dibuat dengan contour menurun untuk menggambarkan sifat anugerah Tuhan yang seakan-akan memasuki manusia dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Proses transformasi di atas berpijak pada penghidupan persona (karakter) yang terdapat di dalam teks melalui instrumen musik. Proses ini juga telah diterapkan di dalam album kedua Jay & Gatra Wardaya, Tanda Hati; Sembilan Lukisan Kata & Nada.

Dalam penampilannya, Paksi Raras (vocal), Benny Fuad (drums), Made Anggoro (contrabass), dan Pandan Purwacandra (keyboard) memberikan kontribusi yang menarik dalam memberikan penafsiran terhadap komposisi ini. Komposisi ini diciptakan dengan ruang interpretasi yang luas sehingga timbullah penafsiran yang berlapis dari setiap pemain.

Jika Sepi Mampir ke Rumah & Jika Rindu Itu Peluru

Proses pembuatan album musik puisi #TandaHati: 9 Lukisan Kata & Nada oleh Jay & Gatra Wardaya di awal Juni ini beranjak dari riset (yang saya lakukan sejak Februari) menuju ke proses rekaman. Dua komposisi yang telah kami rekam ialah Jika Sepi Mampir ke Rumah (yang puisinya ditulis oleh Puspa Panglipur) dan Jika Rindu Itu Peluru (yang puisinya ditulis oleh Rahne Putri).

Jika Sepi Mampir ke Rumah memiliki tantangan interprestasi yang unik. Puisi ini berisi tentang orang pertama yang merasa jera akibat sepi yang sering mampir ke rumahnya. Saking jeranya, ia beritahukan pada orang-orang (orang kedua) untuk mengatakan pada sepi yang ingin mampir ke rumahnya, bahwa ia sudah pindah.

Saya memilih instrumentasi vokal pria dan electric bass dalam komposisi ini. Vokal pria mengambil karakter (persona) orang pertama, sedangkan electric bass mengambil karakter orang kedua lalu beralih menjadi orang pertama. Improvisasi menjadi elemen yang cukup kental dengan berdasarkan karakter yang diperankan di dalam interpretasi puisi tersebut.

Image

(Foto dijepret oleh Tey. Paksi Raras dan Ari Prastowo sedang berada di dalam studio merekam Jika Sepi Mampir ke Rumah.)

Komposisi kedua yang direkam berasal dari puisi Rahne Putri dengan tanpa judul. Karena di album ini yang tanpa judul ada dua puisi (yang satunya milik Ollie), maka komposisi ini saya beri judul Jika Rindu Itu Peluru (mengambil frasa Jika rindu itu peluru yang dominan). Keunikan puisi ini adalah isinya yang bercerita tentang rindu yang dianalogikan dengan peluru.

“Kekejaman” peluru dan manisnya rindu ini saya rasa cocok sekali diwakili dengan dentuman bass drum bersama bassline bass akustik yang berulang-ulang dan warna bunyi tiny electric piano. Vokal wanita dipilih sebagai orang pertama yang merindu. Kehadiran tenor saxophone mewakili karakter seorang pria yang dirindukan dan memenuhi isi kepala orang pertama yang merindu.

Image

(Foto dijepret oleh Tey. Tampak dalam gambar adalah detik-detik menjelang rekaman Jika Rindu Itu Peluru. Ada Pandan, Made, Cati, Okvan, dan saya sendiri.)

Tidak ada halangan yang berarti dalam proses rekaman dua komposisi pertama ini. Penjelasan tentang karakter yang dibawa di dalam puisi tersebut mempermudah kontributor pemain untuk menghidupkan komposisi tersebut.

Itulah ulasan singkat tentang proses rekaman komposisi Jika Sepi Mampir ke Rumah dan Jika Rindu Itu Peluru. Masih ada tujuh komposisi yang akan direkam oleh Jay & Gatra Wardaya. Bagi sahabat yang tertarik mendukung proyek #TandaHati ini bisa memberi dukungannya di http://wujudkan.com/projects/detail/166/TandaHati-9-Lukisan-Kata-dan-Nada

😀

Jay & Gatra Wardaya: #MusikPuisi dan Artist Collective

ImageOktober 2011, ketika saya sedang semangatnya membaca berbagai puisi, muncullah ide mementaskan karya musik atas puisi dari beberapa penyair. Sungguh sebuah keberanian besar saat itu karena saya masih sedikit berpengalaman menciptakan komposisi #musikpuisi. Akhirnya, pementasan itu, yang bertajuk Membuatku Cinta, diselenggarakan pada tanggal 20 Desember 2011 di Societet Taman Budaya Yogyakarta.

Pasca pementasan, kritik dari beberapa jurnalis dan komentar dari banyak teman pun masuk. Bukannya surut semangatnya, justru saya semakin bergairah untuk menciptakan lagi dan lagi komposisi #musikpuisi.

Pada awalnya, proyek ini belum memiliki nama. Maret 2012, saya menemukan nama untuk kendaraan berkomposisi #musikpuisi. Daripada saya menggunakan nama Jay & Friends yang terlampau biasa, saya menggunakan Jay & Gatra WardayaGatra, berasal dari bahasa Jawa Kawi, berarti baris. Wardaya, berasal dari bahasa yang sama, berarti hati. Dengan nama Jay & Gatra Wardaya, saya berharap dapat mengungkapkan baris-baris hati melalui #musikpuisi dengan palet bebunyian yang saya punya.

Mengapa #musikpuisi?

Apresiasi terhadap puisi seakan di antara hidup dan mati. Salah satu fakta yang saya lihat adalah buku puisi tenggelam di antara deretan buku-buku novel di dalam toko buku. Buku-buku puisi memiliki kemungkinan yang kecil untuk diterbitkan oleh penerbit. Alasannya sangat sederhana; buku-buku puisi jarang dibeli konsumen.

Di sisi lain, buku puisi mudah diterbitkan secara mandiri (baca: indie), namun kenyataannya semangat mengapresiasi puisi masih hanya menjadi milik penyair-penyair (junior maupun senior) dan kaum pemerhati sastra. Acara-acara pembacaan puisi dan peluncuran buku puisi semakin marak, tapi sekali lagi belum mampu mencapai masyarakat pada umumnya.

Melalui musik, saya sangat ingin “membacakan” puisi dengan cara lain kepada pendengar. Saya ingin menembus dimensi-dimensi puisi yang belum pernah saya lakukan sebelumnya sebagai komponis. #Musikpuisi merupakan media seni yang unik. Mengutip dari mas  Djaduk Ferianto, kita menciptakan komposisi berdasarkan puisi sebagai “partiturnya”. Bagi Anda yang ingin lebih jauh mengetahui apa itu #musikpuisi, silakan mengunjungi artikel saya sebelumnya; Musik Puisi.

Dalam proses menciptakan #musikpuisi, puisi yang saya pilih diusahakan beragam; dari temanya sampai penyairnya. Ini menarik sekali mengingat setiap penyair memiliki cita rasa masing-masing di dalam puisinya. Puisi yang berbeda-beda ini akhirnya “menghasilkan” bunyi yang berbeda-beda pula. Maka, komposisi yang diciptakan membutuhkan instrumen dan pemain yang berbeda pula. Titik inilah yang membuat saya memilih konsep Jay & Gatra Wardaya sebagai artist collective.

Konsep artist collective membuat Jay & Gatra Wardaya menjadi sebuah kelompok yang luwes; mampu bersinggungan dengan pemain (sesuai kebutuhan komposisi), penyair, videographer, dan pihak manapun bahkan di luar lingkaran musik untuk dan bekerja sama.

Dalam prosesnya yang hampir dua tahun, Jay & Gatra Wardaya telah menelurkan EP Membuatku Cinta dan karya-karya yang sudah dipentaskan (namun belum dimuat di dalam album). Di usia kelompok yang masih muda ini, saya berharap suatu saat musik Jay & Gatra Wardaya bisa menjadi salah satu garda depan musik Indonesia, termasuk di bidang #musikpuisi. Hihihihi…. nampak agak muluk sih, tapi bisa. Sangatlah bisa!

Jadi, nantikan karya-karya Jay & Gatra Wardaya selanjutnya ya! 😀