Implikasi Kepemilikan Kendaraan Bermotor Pribadi Secara Massal

Belakangan ini saya merindukan transportasi umum. Dulu ketika saya masih SMP, saya sering naik bis Kopata dan Kobutri pulang pergi dari rumah ke sekolah. Sekarang nampaknya transportasi umum sudah semakin hilang dan tidak memadai bagi penggunanya. Masih ada sih TransJogja. Tapi… Bagaimana orang mau menggunakan bis jika jalanan semakin padat tak terkendali dan angkutannya kurang nyaman?

Demi mencapai tujuan dengan cepat, saya mau tidak mau beralih ke kendaraan pribadi (dalam hal ini sepeda motor). Seringnya saya menggunakan kendaraan pribadi membuat saya mengamati keadaan dan perilaku saya pribadi dan sekitarnya. Saya menyimpulkan beberapa hal tentang implikasi kepemilikan kendaraan bermotor pribadi secara massal.

  1. Kemacetan

Sudah bukan hal yang asing lagi. Volume dan jumlah kendaraan yang berlebihan di ruas jalan yang terbatas menyebabkan arus kendaraan tersendat. Secara logika, kendaraan membutuhkan ruang yang cukup untuk bergerak. Jika ruang-ruang ini semakin sempit, maka laju kendaraan akan tersendat. Cobalah untuk mengamati “efek mulut botol”.

  1. Pengeluaran yang Tidak Mangkus

Dengan kemacetan, kendaraan akan lebih banyak mengerem-mengegas yang mengakibatkan bahan bakar lebih cepat berkurang. Akibatnya ya tentu saja isi dompet kita akan cepat habis. Apalagi memiliki kendaraan pribadi akan diikuti pula dengan biaya pemeliharaan kendaraan, pajak kendaraan, dan biaya perpanjangan STNK dan BPKB yang jumlahnya aduhai. Statistik menyatakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan hingga 35% biaya dari pendapatannya untuk transportasi, sedangkan masyarakat negara-negara yang transportasi umumnya maju hanya mengeluarkan 3-8% biaya dari pendapatannya.

  1. Kualitas psikis dan pemikiran menurun

Ketika saya menggunakan transportasi umum di Korea di tahun 2014, saya hampir tidak pernah emosional. Dibandingkan di Indonesia, pisuhan (umpatan) seperti koleksi kebun binatang lebih mudah cepat keluar karena kita dibuat tidak sabar berkali-kali karena kemacetan dan tersendatnya perjalanan kita. Di sisi lain, kepemilikan kendaraan pribadi dan buruknya transportasi umum memicu kemalasan untuk berjalan kaki. Coba Anda lihat di sekeliling (dan mungkin kita sendiri), orang lebih memilih naik motor untuk pergi menuju tempat yang hanya berjarak kurang dari 200 m.

  1. Arus lalu lintas tidak teratur

Selain volume dan jumlah kendaraan, adanya sepeda motor dan mobil di satu ruas jalan menyebabkan arus lalu lintas yang tidak teratur. Ini disebabkan karena ritme sepeda motor dan mobil berbeda. Percepatan dan kecepatan mereka berbeda. Bagi yang bisa mengendarai kedua kendaraan tersebut, saya jamin Anda bisa merasakan perbedaannya. Di sisi lain, kendaraan beroda dua cenderung lebih tidak teratur dalam penempatan posisi di ruas jalan dibandingkan dengan kendaraan beroda empat.

  1. Polusi udara

Jumlah kendaraan yang terlampau banyak akan melepaskan partikel-partikel beracun yang keluar dari knalpot. Lebih parah lagi karena ditambahkan dengan jenis kendaraan yang mengonsumsi bahan bakar yang berbeda-beda seperti bensin, solar, pertamax, bio solar, dsb. yang tingkat emisinya tidak semuanya rendah. Di Korea, transportasi (bis dan mobil) sudah menggunakan CNG. Menurut salah satu murid istri saya (murid tersebut berkewarganegaraan Jepang), penggunaan sepeda motor dilarang di Jepang karena mengotori lingkungan. Dia heran dengan jumlah kendaraan bermotor buatan Jepang yang banyaknya luar biasa di Indonesia.

  1. Polusi suara

Entah mungkin karena negara ini tidak peduli dengan standard emisi dan kebisingan, jalanan akhirnya semakin diperparah dengan adanya polusi suara. Polusi ini dihasilkan dari suara mesin dan klakson yang dibunyikan tidak pada tempatnya. Telinga manusia tidak memiliki mekanisme pertahanan diri, tidak seperti mata yang memiliki kelopak dan pupil untuk melindungi diri dari cahaya. Lucunya, hampir semua orang tidak menyadari akan bahaya besar ini. Menurut pengamatan mas Slamet Abdul Sjukur, seorang komponis yang juga aktif dalam gerakan Masyarakat Bebas Bising, sudah ada kasus kehilangan pendengaran yang “tidak diketahui penyebabnya”.

  1. Polisi tidur

Dengan terlampau padatnya kendaraan di jalur utama, orang akan mencari jalan pintas yang biasanya terletak di dalam kompleks tempat tinggal. Masalahnya, warga setempat pasti tidak suka kalau jalanan berisik. Demi memperbaiki keadaan, dibuatlah polisi tidur untuk menghambat laju kendaraan. Polisi tidur terbuat dari aspal, semen, bekas ban motor, atau yang terkini saya temukan di Bukittinggi; balok kayu. Polisi tidur hanya akan menghambat laju kendaraan, memperlambat waktu tempuh, membuat pengeluaran bahan bakar semakin boros, dan membuat geram karena polisi tidur yang terkadang tidak kelihatan. Polisi tidur merupakan cerminan masyarakat yang menyelesaikan masalah dengan menambah masalah.

  1. Kesehatan manusia berkurang

Selain polusi udara dan polusi suara, terlalu lama di jalan menyebabkan orang terlalu lama duduk. Ini tidak baik terutama bagi kesehatan jantung dan ruas tulang belakang kita. Kalau menggunakan transportasi umum, badan akan dituntut untuk bergerak karena kita mesti jalan kaki (atau lari, dalam kasus saya di Korea) ke halte dulu, berdiri di dalam bis (karena tempat duduk terbatas), dan berjalan dari halte ke tempat tujuan. Hal ini masih lebih baik daripada terlalu lama duduk di kendaraan.

  1. Jam karet

Merujuk ke implikasi nomor 1, kemacetan juga mengakibatkan tersendatnya perjalanan sehingga waktu tempuh yang dilalui akan bertambah. Memang itu bisa diakali dengan berangkat lebih awal dari tempat asal. Namun, jika dalam jarak dekat waktu tempuhnya dua hingga tiga kali batas normal, dapat dibayangkan kita akan menjadi tua di jalan.

  1. Meningkatnya kecelakaan lalu lintas

Laju transportasi umum darat dikendalikan oleh supir atau masinis dengan berbekal pengetahuan, latihan, simulasi, dan pengalaman tertentu. Mereka akan lebih menjaga integritas dalam berkendara karena nyawa, keselamatan penumpang, dan waktu menjadi tanggung jawabnya. Sedangkan di kendaraan pribadi, tanggung jawab tersebut adalah cenderung milik perorangan. Dengan kemampuan berkendara orang yang berbeda-beda, ritme kendaraan akan berbeda dan meningkatkan peluang munculnya kecelakaan lalu lintas. Belum lagi jika si pengendara punya SIM dengan cara “nembak” padahal si pengendara belum layak menjadi pengendara.

  1. Kemunculan tukang parkir dadakan dan pembengkakan lahan parkir

Makin banyaknya kendaraan pribadi ini menyebabkan kendaraan yang diparkir menjadi lahan bisnis bagi tukang parkir dadakan. Tukang-tukang parkir ini tidak semuanya resmi. Kebanyakan dari mereka memanfaatkan situasi ini untuk menaikkan tarif parkir hingga lebih dari 100%. Selain itu, lahan-lahan yang ada menjadi lahan parkir liar yang biasanya merebut ruas jalan dan ruas trotoar.

Epilog

Solusi terbaik untuk mengatasi situasi di atas tidak lain hanyalah transportasi umum yang bagus dalam segi sistem dan sarana. Masyarakat tidak hanya menginginkan adanya transportasi umum saja, tapi juga menginginkan transportasi umum yang sarananya nyaman, jumlahnya yang diperbanyak, dan ketepatan waktu yang diperbaiki. Jika hal ini diperjuangkan, saya yakin masyarakat akan dengan senang hati menggunakan transportasi umum.

Disunting pada tanggal 28 September 2015.

image credit: http://s1.cdn.autoevolution.c
Advertisements