Pertemuan Saya dengan Saluang

Saya terlahir dalam garis keturunan separuh Minangkabau (Minang). Bapak saya lahir di Bukittinggi, sedangkan Ibu saya lahir di Cilacap dan memiliki garis keturunan Cina. Saya dua bersaudara dengan seorang adik perempuan. Dulu kami tinggal di Cilacap, namun pada akhir tahun 1999 kami sekeluarga pindah ke Yogyakarta.

Bapak saya bekerja sebagai pengawas listrik di kapal perusahaan pupuk. Beliau jarang sekali pulang ke rumah karena lebih sering berada di laut. Pekerjaan pengawasan listrik kapal hingga saat ini jarang diminati orang. Akibatnya, hanya sedikit orang yang bekerja di bidang tersebut dan konsekuensinya Bapak saya mendapatkan tuntutan kerja yang lebih banyak. Kami pun jarang bertemu.

Saya dibesarkan dalam lingkungan berbahasa Indonesia. Dulu, belajar bahasa Jawa atau Minang pun malas-malasan. Di pelajaran Muatan Lokal alias Mulok, bahasa Jawa menjadi pelajaran sampingan dan nilai ujian saya tidak pernah lebih dari 40%.

Ketika pindah ke Yogyakarta, saya jadi kagok karena tidak bisa berbahasa Jawa. Pernah saat bertemu saudara jauh dari garis keluarga Bapak, saya pun roaming ketika mendengarkan percakapan mereka dalam bahasa Minang.

Pernah saya minta diajari bahasa Mandarin kepada Ibu saya, namun beliau sering menolak. Sepertinya trauma akan rezim Soeharto yang mencabik-cabik kehidupan orang Cina di Indonesia masih membekas. Saya pun menjadi tak termotivasi untuk belajar bahasa Mandarin.

Ketertarikan pada budaya keluarga sendiri nampaknya belum menjadi fokus saya pada saat itu. Adik saya masuk ke Sekolah Menengah Musik Yogyakarta dan mengambil jurusan Violin. Sering saya menonton dia konser dengan orkestra sekolah maupun dengan ansambelnya di luar sekolah. Saya perlahan larut dalam musik Klasik Eropa dan mulai belajar gitar klasik.

Pernah saya bergabung dengan ansambel musik remaja di TBY. Saya gak ada apa-apanya dibandingkan dengan teman-teman saya yang jago primavista. Akhirnya, saya mulai belajar aransemen dengan menulis notasi di komputer dengan otodidak. Dari situ, saya mulai mencari referensi musik orkestra dan ansambel.

Ketika masuk kuliah di Ilmu Komputer UGM, saya sempat bergabung dengan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UGM. Tapi kemudian saya malas-malasan ikut latihan hingga pada suatu saat PSM angkatan saya akan melakukan konser. Saya berinisiatif membentuk string ensemble untuk mengiringi PSM dengan dibantu teman saya yang juga merupakan teman di PSM, mas Andre. Di situlah ilmu aransemen saya terpakai lagi.

Ansambel tersebut akhirnya menjadi UKM bernama Gadjah Mada Chamber Orchestra. Entah kenapa saya menjadi disorientasi, hingga akhirnya saya memutuskan untuk membeli Saxophones bekas dan mencari guru. Dengan modal nekat, saya mendaftarkan diri di Institut Seni Indonesia dan meninggalkan kuliah Ilmu Komputer UGM.

Sontak Ibu saya marah besar mendengar kabar itu. Namun, saya mencoba meyakinkan orang tua saya dan saat itu Bapak lah yang merestui keinginan saya. Saya lalu belajar keras untuk mengejar ketertinggalan.

Semangat dalam perkuliahan di kampus baru, saya makin larut dalam musik jazz dan musik klasik kontemporer. Segala loka karya, seminar, pentas di dalam dan luar kampus, hingga kegiatan musik dan nonmusik di beberapa komunitas musik saya ikuti. Karena pengalaman ini, pengetahuan akan musik Nusantara terbuka perlahan-lahan.

Tahun 2011. Mulai sadar akan budaya keluarga sendiri, saya mulai mencari informasi kepada Bapak tentang Saluang dan musik Minang. Beliau kemudian menghubungi sepupu di kampuang nan jauah di mato untuk meminta dikirimi VCD musik Minang dan Saluang. Selang satu minggu kemudian, kiriman paket sampai di tangan.

Betapa girangnya saya. Tapi, ternyata memainkan Saluang itu sulit sekali. Membunyikannya pun tak mampu. Lagi-lagi, saya patah semangat. Pernah saya berpikir untuk mencari guru Saluang, tapi waktu tak bisa berkompromi.

Singkat cerita, di tahun 2013 saya mendapatkan kado Saluang dari pacar saya (sekarang menjadi istri saya). Nampaknya ini bukan sekadar kado; dia memaksa saya untuk menyempatkan diri belajar budaya keluarga. Tapi apa daya, saya baru bisa memiliki waktu belajar Saluang di tahun berikutnya.

Iya, di tahun berikutnya. Adalah sepeninggal Bapak saya di awal Februari yang menjadi cambuk bagi saya untuk meneruskan budaya keluarga. Saya seperti terpanggil untuk giat belajar Saluang. Di bulan yang sama, saya berusaha mencari guru dan ingin segera memulai sesi agar saya pun tidak larut dalam kesedihan.

Bertemulah saya dengan Purwanto, mahasiswa Etnomusikologi ISI Yogyakarta. Hanya sempat bertemu dua kali karena waktu yang tidak berjodoh, saya mencari guru kedua. Uda Beni, mahasiswa S2 ISI Yogyakarta, menjadi guru saya berikutnya. Kami hanya bertemu sekali saja dan tidak ada sesi kelas resmi.

Waktu itu saya tidak punya waktu banyak karena sedang mempersiapkan segala sesuatu dalam rangka fellowship di Korea. Nah, setelah berada di Korea, saya memiliki waktu banyak untuk belajar Saluang secara mandiri dengan hanya berbekal ingatan atas apa yang pernah saya pelajari dari guru-guru saya dan VCD lagu Saluang yang saya dapatkan tiga tahun yang lalu.

Beginilah proses saya dalam berlatih Saluang : saya bisa menghasilkan bunyi dalam dua minggu latihan, saya bisa meniup dengan agak stabil dalam dua bulan latihan, kemudian saya bisa mempraktikkan napas putar dalam empat hingga lima bulan latihan. Sungguh ini merupakan instrumen paling sulit yang pernah saya mainkan!

Betapapun sulitnya instrumen ini dimainkan, saya jatuh hati pada Saluang dan musik Minang.

Kini, saya tidak hanya ingin menjadi pemain Saxophones saja. Juga tidak hanya ingin menjadi orang-bertampang-dan-berlatar-belakang-Indonesia yang memainkan musik barat saja. Saya harus memiliki suara saya dalam bermusik. Beruntungnya, saya memiliki itu yang berasal dari keluarga besar.

Tugas utama saya sekarang adalah menanamkan itu dalam diri saya dan menerjemahkannya ke dalam bahasa musik saya sehingga menjadi—apa yang saya pahami sebagai—tradisi.

Dan perjalanan pun dimulai…

Catatan :

Saluang merupakan instrumen musik dari Sumatera Barat, Indonesia. Bentuknya tabung silinder panjang dengan empat lubang. Tidak seperti kebanyakan suling yang dimainkan secara horizontal atau vertikal, Saluang dimainkan dengan cara diagonal dengan meniup bagian atas tabung membentuk sudut perpendicular. Teknik khas yang dipakai dalam memainkan Saluang adalah napas putar atau manyisiahkan angok. Secara tradisional, Saluang dimainkan dalam perayaan domestik seperti malam bagurau (fundraising) dan pesta kecil. Dan Saluang biasa dimainkan antara setelah Isya’ sampai sebelum Shubuh.

Advertisements