Rahasia Menikmati Musik yang Beraneka Ragam

Pada abad ini, musik mengalami perkembangan bentuk dan gaya yang sangat pesat. Kemudahan pertukaran informasi yang dipicu oleh akses internet menyebabkan musik dari daerah lain dapat tersebar dengan mudah dan cepat. Kita menjadi tahu bahwa ada musik Noise, Karawitan Jawa Tengah, Bebop, Free Jazz, Saluang jo Dendang, Delta Blues, Progressive Rock, Samulnori, Experimental Pop, Electronic, Trip Hop, East European Folk, hingga musik-musik kontemporer yang tidak mudah dilabeli dengan nama genre.

Pendengar dapat dengan mudah mengakses berbagai macam musik dari festival, website, radio, dan televisi. Berbagai jenis musik sudah memiliki festival sebagai wadah untuk penyajiannya. Sebagai contoh, terdapat festival musik Noise, Jazz, Rock, Blues, Karawitan, hingga festival musik khusus seperti festival untuk instrumen Harpsichord, festival musik yang disajikan berdasarkan graphic score atau notasi gambar, festival musik improvisasi, festival untuk kuartet String, festival untuk instrumen Gitar, dan masih banyak lagi.

Di internet, kita dapat dengan mudah menemukan musik-musik di atas seperti di Youtube, Vimeo, Soundcloud, dan situs penyaji audio maupun video lainnya. Di televisi dan radio, kita dapat menemukan beberapa kanal yang menyajikan musik-musik Orkestra, Jazz, Musik Dunia (World Music), dan sebagainya.

Keanekaragaman ini, di satu sisi, tidak serta merta diikuti dengan kemudahan dalam menikmatinya. Jenis musik yang bermacam-macam ini memiliki estetika yang berbeda-beda, yang akhirnya menuntut pemahaman akan musik satu dengan lainnya. Perbedaan ini dapat dinikmati dan dipahami apabila pendengar mengapresiasi musik yang beraneka ragam.

Cara yang temudah bagi pendengar untuk mengapresiasi musik yang beraneka ragam ialah dengan sering mendengarkan keanekaragaman musik itu sendiri. Aktivitas mendengarkan keanekaragaman tersebut akan menambah pengalaman atas bebunyian. Hal ini akan membentuk kebiasaan dalam mengalami bebagai macam dinamika, stuktur, tekstur, nada, warna bunyi, ritmis, hingga lapisan makna yang dikandung oleh musik-musik tersebut.

Dalam aktivitas pendengaran, mari kita bedakan antara mendengar (hearing), mendengarkan (listening), dan mendengarkan secara mendalam (deep-listening) karena ketiga hal tersebut amat berbeda. Aktivitas mendengar tidak membutuhkan perhatian yang khusus dikarenakan dapat dilakukan sambil lalu; aktivitas mendengarkan membutuhkan perhatian; aktivitas mendengarkan secara mendalam membutuhkan perhatian dan konsentrasi secara menyeluruh. Bagi pendengar awam, cobalah untuk memasuki tahap mendengarkan.

Mengalami hal baru pasti tidak mudah pada awalnya dan ini berlaku pula dalam berapresiasi. Hal-hal baru biasanya akan berbenturan dengan selera yang telah terbentuk berdasarkan perspektif pandangan yang telah terpatri. Ini merupakan hal yang wajar, seperti yang pernah diungkapkan oleh Steve Coleman, seorang saxophonis, bahwa semua hal pasti tidak mudah pada mulanya.

Selain mendengarkan, aktivitas apresiasi didukung dengan aktivitas nonmusikal, seperti mencoba berbicara dan bertanya kepada musisi (ketika setelah pertunjukan) dan mencari tahu biografi musisi dan latar belakang sejarah musik tersebut (lewat internet, buku, atau catatan rekaman). Mendengarkan musik lain yang gaya musiknya cukup dekat dengan musik yang pernah Anda dengarkan pun dapat membantu untuk memperlebar wawasan bunyi.

Anda mungkin bertanya-tanya, untuk apa kita berapresiasi? Jawabannya berkaitan dengan kebutuhan manusia dalam mendengarkan hal baru; berapresiasi akan memudahkan kita dalam mendengarkan dan menikmati keragaman musik yang begitu luas.

Aktivitas apresiasi akan membuka cakrawala pendengar akan kekayaan musik di dunia. Di samping itu, apresiasi akan menumbuhkan sikap obyektif dalam menilai musik yang beragam, baru, atau cenderung asing yang sedang kita dengarkan. Selera merupakan sesuatu yang menyebabkan hidup manusia berwarna, namun ia memiliki efek samping terhadap penilaian manusia yang cenderung subyektif. Apa yang kita anggap tidak enak saat ini tidak berhubungan dengan kualitas sebuah musik.

Ibarat menyantap makanan, lidah orang Jawa yang menyantap Gudeg tentu berbeda dengan ketika menyantap Pizza. Gudeg barangkali sudah pasti enak, tapi tidak demikian dengan Pizza yang notabene merupakan makanan yang sering disantap oleh orang Italia. Gudeg dan Pizza adalah makanan yang berbeda cita rasa, estetika, dan latar belakang sejarahnya. Maka, alangkah lebih bijak jika kita menilai kedua hal tersebut dengan penilaian yang obyektif, bukan dengan penilaian berdasarkan selera.

Seperti makanan, musik juga memikili cita rasa, estetika, dan latar belakang sejarahnya masing-masing. Dengan pandangan obyektif, pendengar dapat memiliki wawasan pengetahuan dan perspektif pandangan yang luas. Kedua hal ini dapat membentuk dan mengembangkan selera musik seseorang.

Jika Anda adalah penggemar musik Pop, cobalah untuk menyimak musik Jazz dan Noise. Jika Anda adalah penggemar musik Rock, cobalah menyimak musik Karawitan dan Pop. Jika Anda adalah penggemar musik Hip Hop, cobalah untuk datang ke festival musik kontemporer atau pementasan musik Dangdut. Ciptakan komunikasi dengan musisi setelah menonton pertunjukannya dan carilah pengetahuan di internet atau buku yang akan mendukung informasi tentang musik yang Anda nikmati. Alih-alih menggunakan istilah enak-tidak-enak sebagai penilaian, gunakan tolok ukur lain seperti dinamika, tekstur, makna lirik, atau apapun yang membuat Anda tertarik pada musik tersebut.

Pada akhirnya, aktivitas apresiasi akan menuntun kita sebagai pendengar untuk sampai pada tujuan besar dalam berapresiasi, yaitu kemudahan dalam menikmati musik yang beraneka ragam dari seluruh penjuru dunia.

Advertisements

Kemerdekaan Berbunyi, Kebisingan, dan Kepentingan

Kemerdekaan berarti keadaan yang bebas dari penjajahan, perhambaan, atau pengekangan. Keadaan tersebut menjadi hal yang hakiki bagi manusia. Manusia yang merdeka idealnya juga memahami kemerdekaan orang lain. Inilah salah satu makna toleransi yang mendalam; kemerdekaan yang mengerti batas.

Salah satu aspek yang sering dikaitkan dengan kemerdekaan adalah kebebasan berpendapat. Toleransi berlaku dalam berpendapat, di mana setiap orang mesti memahami kebebasannya masing-masing. Setiap orang bebas mengemukakan pemikirannya yang disertai dengan pemahaman batasan diri dan orang lain. Dengan demikian, manusia memiliki keteguhan atas pendiriannya sekaligus menghargai sikap dan perilaku orang lain, asalkan sikap dan perilaku tersebut tidak mengganggu ketenteraman orang lain.

Kebisingan yang Menjelma Menjadi Kekuatan Baru

Di zaman ini, kebisingan mencapai taraf yang memprihatinkan. Ambang batas kebisingan manusia mengalami kenaikan, yang artinya kemampuan mendengarkan bunyi yang lemah semakin berkurang. Hal ini tidak dapat dirasakan dengan mudah, namun dapat diketahui dengan tes pendengaran.

“Kehebatan” sebagian besar manusia Indonesia yang tahan akan kebisingan patut diacungi jempol terbalik. Saking tahannya dengan kebisingan, masyarakat menjadi “hidup” di dalamnya. Akibatnya, manusia seakan-akan menciptakan kekuatan baru dalam berpendapat, yaitu bunyi. Agar didengarkan oleh orang lain, manusia mengeraskan suaranya sebagai penyeimbang. Ibarat hukum rimba, siapa yang paling kencang volumenya maka dialah yang paling kuat, ternama, benar, patut, atau label superior apapun. Pengerasan suara tersebut diejawantahkan melalui perangkat pengeras suara.

Ada beberapa contoh kasus nyata penggunaan bunyi yang telah melampaui batas. Dalam sebuah hajatan, telah menjadi sebuah tradisi bahwa klonengan menjadi sebuah penanda akan berlangsungnya sebuah acara. Sebagai contoh, di Jawa pada zaman dahulu, klonengan tersebut diwakili dengan gamelan. Musik menjadi penanda yang dapat mengumumkan sebuah acara sekaligus penunjuk area bagi orang yang sedang dalam perjalanan menghadiri hajatan tersebut.

Terdapat perbedaan dengan zaman sekarang, di mana klonengan ini digantikan oleh sistem pengeras suara yang kebanyakan tidak ditata dengan baik dalam segi penataan bunyi maupun perangkatnya. Di dalam hajatan apapun, kita tidak akan tidak menjumpai perangkat pengeras suara yang kebanyakan ditata dengan buruk. Produksi dan amplifikasi bunyi yang dihasilkan dari pengeras suara semacam itu meniadakan keindahan bunyi itu sendiri dan mengganggu pendengaran orang lain.

Kasus kebisingan yang dibuat oleh knalpot motor blombongan dalam pawai partai politik maupun moge menjadi contoh kekuatan bunyi yang telah mengusik ketenangan orang lain. Pengendara dalam iring-iringan motor tersebut menyalahgunakan knalpot dengan mbleyer (Jw; mengegas kendaraannya secara berlebihan). Bebunyian knalpot ini menjadi penanda kekuasaan bagi mereka yang mengendarainya, untuk terlihat keren dan gagah.  Pada akhirnya, kekuatan partai politik dan kelompok tertentu dilambangkan salah satunya dengan bunyi knalpot yang notabene adalah perangkat bagian pembuangan yang sama fungsinya seperti dubur.

Pengeras suara yang berasal dari TOA masjid-masjid menjadi fenomena yang patut dikaji ulang. Pengeras suara ini digunakan untuk mengumandangkan adzan dan mengumumkan informasi penting. Yang menjadi masalah ialah pengeras suara tersebut volumenya melebihi batas area pendengar yang semestinya. Terlebih di Pulau Jawa, masjid-masjid terletak berdekatan sehingga bebunyian dari TOA bertabrakan satu sama lain.

Jika digambarkan dalam diagram Venn, lingkaran cakupan bebunyian ini membuat potongan-potongan area besar yang di dalamnya masyarakat mendengarkan campuran lebih dari satu sumber pengeras suara. Untuk hal ini, konten bunyi di dalamnya sebenarnya baik, namun penyampaiannya dengan keadaan seperti yang telah diilustrasikan di atas justru membuat konten tersebut menjadi kabur.

Kemerdekaan Berbunyi dan Benturan Kepentingan 

Sesungguhnya bebunyian (beserta amplifikasinya) yang terjadi secara alami pada waktu yang tepat mampu menciptakan suasana yang kondusif. Bebunyian yang muncul dengan amplifikasi buruk dan pada waktu yang tidak tepat dapat mengganggu pendengaran dan ketenteraman orang lain.

Dalam panggung pertunjukan musik, orang yang datang untuk menyaksikan pertunjukan telah menyiapkan telinga untuk mendengarkan apa yang akan disajikan. Dari sebagian orang yang tidak datang, mereka tidak ingin mendengarkan sajian pertunjukan tersebut dengan alasan yang beragam. Pun orang yang sudah di lokasi menyaksikan pertunjukan dapat memilih untuk pergi karena memilih untuk tidak mendengarkannya lagi.

Seperti di panggung pertunjukan, setiap orang berhak memilih mana yang mau mereka dengarkan. Di dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang berhak untuk menikmati kebebasan dari kebisingan. Untuk menciptakan kondisi yang bebas bising, segenap lapis masyarakat hingga pemerintah harus menumbuhkan kepedulian tentang kebisingan dan mengambil tindakan sebagai langkah nyata.

Namun, hal ini tidak akan mudah dilakukan karena kebisingan di Indonesia dipicu oleh berbagai sebab. Kebisingan di jalan raya dipicu dari terlalu banyaknya transportasi pribadi. Menyedihkan, hal ini disebabkan oleh kebijakan politik yang dilakukan oleh baik itu pemerintah Indonesia dengan perusahaan kendaraan dari luar negeri yang didukung oleh kebijakan ekonomi liberalnya. Jepang yang memberlakukan kebijakan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi membuat perusahaannya mengalihkan tujuan usahanya ke negara ini dengan tingkat negosiasi hingga ke taraf pemerintah Indonesia. Pemerintah sepakat penjualan kendaraan tersebut disahkan asal perusahaan tersebut membantu melakukan perbaikan sarana jalan raya.

Lalu kenyataannya? Negeri matahari terbit itu tetap kondusif lalu lintasnya dan perusahaannya mendapatkan keuntungan besar, sedangkan keadaan lalu lintas di Indonesia menjadi carut-marut berikut polusi udara, polusi bunyi, dan polusi cahaya yang menyertainya. Kendaraan pribadi bermerk “H*nda” berjibun jumlahnya di negara ini, sedangkan di negerinya sendiri sangat jarang dijumpai.

Masalah pengeras suara dalam hajatan dipicu dari masyarakat yang menerapkan modernisasi teknologi yang tidak disertai dengan ilmunya. Asal pengunjungnya dapat mendengar dan asal keras; itulah yang menjadi tujuan. Intensitas dan pengaturan frekuensi diabaikan. Perangkat pengeras suara yang baik memerlukan biaya yang tidak sedikit. Untuk mengakalinya, masyarakat membuat sendiri perangkat tersebut dengan biaya yang relatif terjangkau. Namun, peribahasa lama tetap saja berlaku, “Ana rega ana rupa” (ada harga ada rupa).

Teknisi yang mengatur perangkat suara juga kebanyakan tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni. Walaupun perangkatnya bagus, suara yang dihasilkan tetap saja buruk apabila sumber daya manusianya tidak mampu memahami bagaimana cara mengelola dan mengendalikan perangkat.

Di sisi lain, perlakuan berlebihan terhadap TOA masjid menjadi saksi bisu di mana masyarakat yang mayoritas beragama Islam belum memahami secara mendalam sebuah konsep Islam sebagai rahmat bagi seluruh semesta (Rahmatan lil ‘alamin). Konsep ini mengandung hal tertinggi dalam hubungan horizontal (manusia dengan manusia lainnya) yakni sebuah toleransi.

Ironisnya, kebanyakan muslim yang menjadi mayoritas di negara ini justru dumeh (Jw; mentang-mentang); dumeh muslim adalah pemeluk mayoritas, mereka bisa seenaknya. Barangkali mereka mesti belajar menjadi minoritas di negeri lain agar dapat merasakan betapa berbedanya hidup dengan hal berbau mayoritas.

Kasus-kasus tersebut hanyalah beberapa dari kasus yang terjadi di masyarakat. Masalah yang diakibatkan dari kebisingan ini mesti menjadi cerminan bagi kita semua, bahwa kebisingan bukan lagi masalah yang sepele. Kebisingan di negara ini sudah mencakup masalah benturan dengan kepentingan lain. Belum lagi fakta bahwa kebisingan menyebabkan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan apresiasi musik, kesehatan tubuh secara umum, dan sebagainya.

Di ulang tahun NKRI ke 70 ini, sudah sepatutnya pemerintah hingga masyarakat terkecil peduli untuk membangun ruang suara (soundscape) yang sehat, baik itu sehat dalam segi pendengaran maupun sehat dalam segi pergaulan masyarakat. Pemerintah juga harus belajar dari negara lain dalam penataan kota dan ruang suaranya. Kemajuan bangsa ini tidak dapat pula dibangun dengan sikap warga negaranya yang abai pada ruang suara.

Kemerdekaan berbunyi setara dengan kemerdekaan berpendapat. Sebab, keduanya identik dengan penggunaan suara dalam makna konotasi maupun denotasi. Kebebasan dalam berbunyi menghadapi batas, yakni kebebasan orang lain untuk memilih apa yang ingin didengarkannya.

Implikasi Kepemilikan Kendaraan Bermotor Pribadi Secara Massal

Belakangan ini saya merindukan transportasi umum. Dulu ketika saya masih SMP, saya sering naik bis Kopata dan Kobutri pulang pergi dari rumah ke sekolah. Sekarang nampaknya transportasi umum sudah semakin hilang dan tidak memadai bagi penggunanya. Masih ada sih TransJogja. Tapi… Bagaimana orang mau menggunakan bis jika jalanan semakin padat tak terkendali dan angkutannya kurang nyaman?

Demi mencapai tujuan dengan cepat, saya mau tidak mau beralih ke kendaraan pribadi (dalam hal ini sepeda motor). Seringnya saya menggunakan kendaraan pribadi membuat saya mengamati keadaan dan perilaku saya pribadi dan sekitarnya. Saya menyimpulkan beberapa hal tentang implikasi kepemilikan kendaraan bermotor pribadi secara massal.

  1. Kemacetan

Sudah bukan hal yang asing lagi. Volume dan jumlah kendaraan yang berlebihan di ruas jalan yang terbatas menyebabkan arus kendaraan tersendat. Secara logika, kendaraan membutuhkan ruang yang cukup untuk bergerak. Jika ruang-ruang ini semakin sempit, maka laju kendaraan akan tersendat. Cobalah untuk mengamati “efek mulut botol”.

  1. Pengeluaran yang Tidak Mangkus

Dengan kemacetan, kendaraan akan lebih banyak mengerem-mengegas yang mengakibatkan bahan bakar lebih cepat berkurang. Akibatnya ya tentu saja isi dompet kita akan cepat habis. Apalagi memiliki kendaraan pribadi akan diikuti pula dengan biaya pemeliharaan kendaraan, pajak kendaraan, dan biaya perpanjangan STNK dan BPKB yang jumlahnya aduhai. Statistik menyatakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan hingga 35% biaya dari pendapatannya untuk transportasi, sedangkan masyarakat negara-negara yang transportasi umumnya maju hanya mengeluarkan 3-8% biaya dari pendapatannya.

  1. Kualitas psikis dan pemikiran menurun

Ketika saya menggunakan transportasi umum di Korea di tahun 2014, saya hampir tidak pernah emosional. Dibandingkan di Indonesia, pisuhan (umpatan) seperti koleksi kebun binatang lebih mudah cepat keluar karena kita dibuat tidak sabar berkali-kali karena kemacetan dan tersendatnya perjalanan kita. Di sisi lain, kepemilikan kendaraan pribadi dan buruknya transportasi umum memicu kemalasan untuk berjalan kaki. Coba Anda lihat di sekeliling (dan mungkin kita sendiri), orang lebih memilih naik motor untuk pergi menuju tempat yang hanya berjarak kurang dari 200 m.

  1. Arus lalu lintas tidak teratur

Selain volume dan jumlah kendaraan, adanya sepeda motor dan mobil di satu ruas jalan menyebabkan arus lalu lintas yang tidak teratur. Ini disebabkan karena ritme sepeda motor dan mobil berbeda. Percepatan dan kecepatan mereka berbeda. Bagi yang bisa mengendarai kedua kendaraan tersebut, saya jamin Anda bisa merasakan perbedaannya. Di sisi lain, kendaraan beroda dua cenderung lebih tidak teratur dalam penempatan posisi di ruas jalan dibandingkan dengan kendaraan beroda empat.

  1. Polusi udara

Jumlah kendaraan yang terlampau banyak akan melepaskan partikel-partikel beracun yang keluar dari knalpot. Lebih parah lagi karena ditambahkan dengan jenis kendaraan yang mengonsumsi bahan bakar yang berbeda-beda seperti bensin, solar, pertamax, bio solar, dsb. yang tingkat emisinya tidak semuanya rendah. Di Korea, transportasi (bis dan mobil) sudah menggunakan CNG. Menurut salah satu murid istri saya (murid tersebut berkewarganegaraan Jepang), penggunaan sepeda motor dilarang di Jepang karena mengotori lingkungan. Dia heran dengan jumlah kendaraan bermotor buatan Jepang yang banyaknya luar biasa di Indonesia.

  1. Polusi suara

Entah mungkin karena negara ini tidak peduli dengan standard emisi dan kebisingan, jalanan akhirnya semakin diperparah dengan adanya polusi suara. Polusi ini dihasilkan dari suara mesin dan klakson yang dibunyikan tidak pada tempatnya. Telinga manusia tidak memiliki mekanisme pertahanan diri, tidak seperti mata yang memiliki kelopak dan pupil untuk melindungi diri dari cahaya. Lucunya, hampir semua orang tidak menyadari akan bahaya besar ini. Menurut pengamatan mas Slamet Abdul Sjukur, seorang komponis yang juga aktif dalam gerakan Masyarakat Bebas Bising, sudah ada kasus kehilangan pendengaran yang “tidak diketahui penyebabnya”.

  1. Polisi tidur

Dengan terlampau padatnya kendaraan di jalur utama, orang akan mencari jalan pintas yang biasanya terletak di dalam kompleks tempat tinggal. Masalahnya, warga setempat pasti tidak suka kalau jalanan berisik. Demi memperbaiki keadaan, dibuatlah polisi tidur untuk menghambat laju kendaraan. Polisi tidur terbuat dari aspal, semen, bekas ban motor, atau yang terkini saya temukan di Bukittinggi; balok kayu. Polisi tidur hanya akan menghambat laju kendaraan, memperlambat waktu tempuh, membuat pengeluaran bahan bakar semakin boros, dan membuat geram karena polisi tidur yang terkadang tidak kelihatan. Polisi tidur merupakan cerminan masyarakat yang menyelesaikan masalah dengan menambah masalah.

  1. Kesehatan manusia berkurang

Selain polusi udara dan polusi suara, terlalu lama di jalan menyebabkan orang terlalu lama duduk. Ini tidak baik terutama bagi kesehatan jantung dan ruas tulang belakang kita. Kalau menggunakan transportasi umum, badan akan dituntut untuk bergerak karena kita mesti jalan kaki (atau lari, dalam kasus saya di Korea) ke halte dulu, berdiri di dalam bis (karena tempat duduk terbatas), dan berjalan dari halte ke tempat tujuan. Hal ini masih lebih baik daripada terlalu lama duduk di kendaraan.

  1. Jam karet

Merujuk ke implikasi nomor 1, kemacetan juga mengakibatkan tersendatnya perjalanan sehingga waktu tempuh yang dilalui akan bertambah. Memang itu bisa diakali dengan berangkat lebih awal dari tempat asal. Namun, jika dalam jarak dekat waktu tempuhnya dua hingga tiga kali batas normal, dapat dibayangkan kita akan menjadi tua di jalan.

  1. Meningkatnya kecelakaan lalu lintas

Laju transportasi umum darat dikendalikan oleh supir atau masinis dengan berbekal pengetahuan, latihan, simulasi, dan pengalaman tertentu. Mereka akan lebih menjaga integritas dalam berkendara karena nyawa, keselamatan penumpang, dan waktu menjadi tanggung jawabnya. Sedangkan di kendaraan pribadi, tanggung jawab tersebut adalah cenderung milik perorangan. Dengan kemampuan berkendara orang yang berbeda-beda, ritme kendaraan akan berbeda dan meningkatkan peluang munculnya kecelakaan lalu lintas. Belum lagi jika si pengendara punya SIM dengan cara “nembak” padahal si pengendara belum layak menjadi pengendara.

  1. Kemunculan tukang parkir dadakan dan pembengkakan lahan parkir

Makin banyaknya kendaraan pribadi ini menyebabkan kendaraan yang diparkir menjadi lahan bisnis bagi tukang parkir dadakan. Tukang-tukang parkir ini tidak semuanya resmi. Kebanyakan dari mereka memanfaatkan situasi ini untuk menaikkan tarif parkir hingga lebih dari 100%. Selain itu, lahan-lahan yang ada menjadi lahan parkir liar yang biasanya merebut ruas jalan dan ruas trotoar.

Epilog

Solusi terbaik untuk mengatasi situasi di atas tidak lain hanyalah transportasi umum yang bagus dalam segi sistem dan sarana. Masyarakat tidak hanya menginginkan adanya transportasi umum saja, tapi juga menginginkan transportasi umum yang sarananya nyaman, jumlahnya yang diperbanyak, dan ketepatan waktu yang diperbaiki. Jika hal ini diperjuangkan, saya yakin masyarakat akan dengan senang hati menggunakan transportasi umum.

Disunting pada tanggal 28 September 2015.

image credit: http://s1.cdn.autoevolution.c

Pertemuan Saya dengan Saluang

Saya terlahir dalam garis keturunan separuh Minangkabau (Minang). Bapak saya lahir di Bukittinggi, sedangkan Ibu saya lahir di Cilacap dan memiliki garis keturunan Cina. Saya dua bersaudara dengan seorang adik perempuan. Dulu kami tinggal di Cilacap, namun pada akhir tahun 1999 kami sekeluarga pindah ke Yogyakarta.

Bapak saya bekerja sebagai pengawas listrik di kapal perusahaan pupuk. Beliau jarang sekali pulang ke rumah karena lebih sering berada di laut. Pekerjaan pengawasan listrik kapal hingga saat ini jarang diminati orang. Akibatnya, hanya sedikit orang yang bekerja di bidang tersebut dan konsekuensinya Bapak saya mendapatkan tuntutan kerja yang lebih banyak. Kami pun jarang bertemu.

Saya dibesarkan dalam lingkungan berbahasa Indonesia. Dulu, belajar bahasa Jawa atau Minang pun malas-malasan. Di pelajaran Muatan Lokal alias Mulok, bahasa Jawa menjadi pelajaran sampingan dan nilai ujian saya tidak pernah lebih dari 40%.

Ketika pindah ke Yogyakarta, saya jadi kagok karena tidak bisa berbahasa Jawa. Pernah saat bertemu saudara jauh dari garis keluarga Bapak, saya pun roaming ketika mendengarkan percakapan mereka dalam bahasa Minang.

Pernah saya minta diajari bahasa Mandarin kepada Ibu saya, namun beliau sering menolak. Sepertinya trauma akan rezim Soeharto yang mencabik-cabik kehidupan orang Cina di Indonesia masih membekas. Saya pun menjadi tak termotivasi untuk belajar bahasa Mandarin.

Ketertarikan pada budaya keluarga sendiri nampaknya belum menjadi fokus saya pada saat itu. Adik saya masuk ke Sekolah Menengah Musik Yogyakarta dan mengambil jurusan Violin. Sering saya menonton dia konser dengan orkestra sekolah maupun dengan ansambelnya di luar sekolah. Saya perlahan larut dalam musik Klasik Eropa dan mulai belajar gitar klasik.

Pernah saya bergabung dengan ansambel musik remaja di TBY. Saya gak ada apa-apanya dibandingkan dengan teman-teman saya yang jago primavista. Akhirnya, saya mulai belajar aransemen dengan menulis notasi di komputer dengan otodidak. Dari situ, saya mulai mencari referensi musik orkestra dan ansambel.

Ketika masuk kuliah di Ilmu Komputer UGM, saya sempat bergabung dengan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UGM. Tapi kemudian saya malas-malasan ikut latihan hingga pada suatu saat PSM angkatan saya akan melakukan konser. Saya berinisiatif membentuk string ensemble untuk mengiringi PSM dengan dibantu teman saya yang juga merupakan teman di PSM, mas Andre. Di situlah ilmu aransemen saya terpakai lagi.

Ansambel tersebut akhirnya menjadi UKM bernama Gadjah Mada Chamber Orchestra. Entah kenapa saya menjadi disorientasi, hingga akhirnya saya memutuskan untuk membeli Saxophones bekas dan mencari guru. Dengan modal nekat, saya mendaftarkan diri di Institut Seni Indonesia dan meninggalkan kuliah Ilmu Komputer UGM.

Sontak Ibu saya marah besar mendengar kabar itu. Namun, saya mencoba meyakinkan orang tua saya dan saat itu Bapak lah yang merestui keinginan saya. Saya lalu belajar keras untuk mengejar ketertinggalan.

Semangat dalam perkuliahan di kampus baru, saya makin larut dalam musik jazz dan musik klasik kontemporer. Segala loka karya, seminar, pentas di dalam dan luar kampus, hingga kegiatan musik dan nonmusik di beberapa komunitas musik saya ikuti. Karena pengalaman ini, pengetahuan akan musik Nusantara terbuka perlahan-lahan.

Tahun 2011. Mulai sadar akan budaya keluarga sendiri, saya mulai mencari informasi kepada Bapak tentang Saluang dan musik Minang. Beliau kemudian menghubungi sepupu di kampuang nan jauah di mato untuk meminta dikirimi VCD musik Minang dan Saluang. Selang satu minggu kemudian, kiriman paket sampai di tangan.

Betapa girangnya saya. Tapi, ternyata memainkan Saluang itu sulit sekali. Membunyikannya pun tak mampu. Lagi-lagi, saya patah semangat. Pernah saya berpikir untuk mencari guru Saluang, tapi waktu tak bisa berkompromi.

Singkat cerita, di tahun 2013 saya mendapatkan kado Saluang dari pacar saya (sekarang menjadi istri saya). Nampaknya ini bukan sekadar kado; dia memaksa saya untuk menyempatkan diri belajar budaya keluarga. Tapi apa daya, saya baru bisa memiliki waktu belajar Saluang di tahun berikutnya.

Iya, di tahun berikutnya. Adalah sepeninggal Bapak saya di awal Februari yang menjadi cambuk bagi saya untuk meneruskan budaya keluarga. Saya seperti terpanggil untuk giat belajar Saluang. Di bulan yang sama, saya berusaha mencari guru dan ingin segera memulai sesi agar saya pun tidak larut dalam kesedihan.

Bertemulah saya dengan Purwanto, mahasiswa Etnomusikologi ISI Yogyakarta. Hanya sempat bertemu dua kali karena waktu yang tidak berjodoh, saya mencari guru kedua. Uda Beni, mahasiswa S2 ISI Yogyakarta, menjadi guru saya berikutnya. Kami hanya bertemu sekali saja dan tidak ada sesi kelas resmi.

Waktu itu saya tidak punya waktu banyak karena sedang mempersiapkan segala sesuatu dalam rangka fellowship di Korea. Nah, setelah berada di Korea, saya memiliki waktu banyak untuk belajar Saluang secara mandiri dengan hanya berbekal ingatan atas apa yang pernah saya pelajari dari guru-guru saya dan VCD lagu Saluang yang saya dapatkan tiga tahun yang lalu.

Beginilah proses saya dalam berlatih Saluang : saya bisa menghasilkan bunyi dalam dua minggu latihan, saya bisa meniup dengan agak stabil dalam dua bulan latihan, kemudian saya bisa mempraktikkan napas putar dalam empat hingga lima bulan latihan. Sungguh ini merupakan instrumen paling sulit yang pernah saya mainkan!

Betapapun sulitnya instrumen ini dimainkan, saya jatuh hati pada Saluang dan musik Minang.

Kini, saya tidak hanya ingin menjadi pemain Saxophones saja. Juga tidak hanya ingin menjadi orang-bertampang-dan-berlatar-belakang-Indonesia yang memainkan musik barat saja. Saya harus memiliki suara saya dalam bermusik. Beruntungnya, saya memiliki itu yang berasal dari keluarga besar.

Tugas utama saya sekarang adalah menanamkan itu dalam diri saya dan menerjemahkannya ke dalam bahasa musik saya sehingga menjadi—apa yang saya pahami sebagai—tradisi.

Dan perjalanan pun dimulai…

Catatan :

Saluang merupakan instrumen musik dari Sumatera Barat, Indonesia. Bentuknya tabung silinder panjang dengan empat lubang. Tidak seperti kebanyakan suling yang dimainkan secara horizontal atau vertikal, Saluang dimainkan dengan cara diagonal dengan meniup bagian atas tabung membentuk sudut perpendicular. Teknik khas yang dipakai dalam memainkan Saluang adalah napas putar atau manyisiahkan angok. Secara tradisional, Saluang dimainkan dalam perayaan domestik seperti malam bagurau (fundraising) dan pesta kecil. Dan Saluang biasa dimainkan antara setelah Isya’ sampai sebelum Shubuh.

Indonesia Discovery Box Project

The National Folk Museum (국립민속박물관) memiliki program The Culture Discovery Box yang bertujuan mempromosikan berbagai kebudayaan yang tersebar di dunia. Tahun ini Indonesia dipilih sebagai tema utamanya.

Pihak museum mengembangkan proyek Indonesia Discovery Box dan akan meluncurkan Indonesia Box. Proyek ini bertujuan memberikan pengetahuan tentang budaya Indonesia khususnya kepada anak-anak, warga setempat, dan warga asing yang tinggal di Korea Selatan. Proyek ini diarahkan oleh Valentina Beatrix yang juga merupakan peserta CPI (Cultural Partnership Initiative) 2014.

Proyek ini dikemas berbentuk semacam lemari yang bisa dilipat ke samping. Setiap lipatan tampak depannya berukuran sekitar 1 m x 2 m. Box ini didesain sedemikian rupa sehingga anak-anak diharapkan dapat memahami budaya Indonesia dengan lebih mudah dan menyenangkan.

Di kotak tersebut terdapat informasi singkat seperti bendera negara, baju adat, makanan khas, cerita anak, dan musik Indonesia. Semuanya diterangkan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Korea dan bahasa Inggris.

Saya berpartisipasi dalam proyek ini untuk bagian musiknya. Bekerja sama dengan Iik Suryani, peserta CPI 2014 juga, kami merekam sebagian instrumen Indonesia. Kami hanya bisa menggunakan sebagian alat musik Indonesia karena keberadaannya di the National Folk Museum terbatas, sedangkan saya dan Iik Suryani juga tidak terlalu banyak membawa instrumen tradisional dari Indonesia.

Iik Suryani membawa beberapa aksesoris klothekan dan Suling Jawa, sedangkan saya membawa Saluang dan Siter Jawa. Kebetulan pihak museum memiliki beberapa instrumen aksesoris dan angklung.

Rekaman dilakukan di studio yang terletak dekat Universitas Dongguk pada 16 September 2014 pukul 16:00 waktu setempat. Untuk keperluan visual, kami memakai baju khas Indonesia pada saat rekaman. Saya memakai baju khas Minangkabau, sedangkan Iik Suryani memakai baju khas Jawa Tengah.

Khusus untuk rekaman angklung, Valentina hadir membantu karena dua orang saja tidak cukup untuk memainkannya. Ngomong-ngomong, semua pasti sudah tahu kalau membunyikan angklung itu mudah, tapi untuk memainkannya tidak mudah. Dibutuhkan koordinasi yang baik antara pemain. Alhasil, walaupun memainkan secara spontan, kami pun harus melakukan beberapa kali take hanya untuk sebuah lagu pendek. Apalagi satu orang memegang dua sampai tiga buah angklung sekaligus. Haha…

Indonesia Discovery Box akan diluncurkan pada Selasa, 30 September 2014 pukul 15:00 waktu setempat di Children’s Education Hall, The National Folk Museum. Acara ini gratis. Teman-teman semua yang berada di Seoul kami harapkan untuk hadir di acara tersebut. Menurut kabar, akan ada sajian khas Indonesia salah satunya rendang.

Rencananya, kami juga akan memainkan lagu Tanah Air (yang pernah direkam oleh Jay & Gatra Wardaya tahun 2012 silam) dan lagu khas Korsel Arirang yang akan diaransemen dengan Saluang dan vokal khas Jawa Tengah.

NB: The National Folk Museum beralamat di Samcheong-ro 37, Jongno-gu, Seoul, Korea [서울시 종로구 삼청로 37 (110-820), www.nfm.go.kr]

(dari kiri ke kanan) Lee Eun Mi (The National Folk Museum), Valentina Beatrix, Iik Suryani, saya, dan Hyunjun Kim

Jay & Gatra Wardaya dari Tahun ke Tahun

Tiba-tiba iseng buka folder foto-foto Jay & Gatra Wardaya. Lalu saya jadi pingin unggah foto-foto Jay & Gatra Wardaya dari tahun ke tahun.

2011

 

 

2012

 

 

2013

 

 

2014

 

 

2015

 

Sumber foto :

@adicahcilik, Nine Photoworks, Praswa Jati, Mega Novetrishka (Jazzuality.com), swaragamajogja.com, Ilyas Prakananda, Pamityang2an Qwerty Radio, Terry Perdanawati, Thomas Dian, & Domenico Khalik Nugrahanta.

 

Izinkan Telinga Mendengarkan Detak Jantung & Hembusan Napas

Berbahagialah kita yang diberikan kemampuan mendengar oleh Tuhan. Betapa nikmatnya kita yang dapat mendengarkan bermacam-macam bunyi, sehingga citra yang tertangkap oleh tubuh kita serasa memiliki dimensi yang berlapis-lapis.

Bunyi yang kita tangkap ini tidak terlihat oleh indera penglihatan. Karena tidak terlihat, banyak sekali orang yang meremehkan dampak yang ditimbulkan akibat bunyi yang terlalu keras dengan rentang waktu lama dan/atau bunyi tak teratur yang dihasilkan dan ditangkap tidak pada tempatnya.

Keras lemahnya bunyi diistilahkan dengan amplitudo, dengan satuan decibel (dB).

Telinga kita memiliki ambang batas kekerasan. Di daerah koklea, terdapat sekitar 15.000 sel rambut yang berfungsi sebagai reseptor bunyi. Pada manusia dan mamalia, kerusakan pada sel rambut akibat kebisingan tidak dapat ditanggulangi karena sel rambut yang rusak tidak dapat diproduksi lagi oleh tubuh.

Gambar berikut memberikan gambaran singkat tentang tingkat kekerasan beserta contohnya.

Dikutip dari telinga-hati.blogspot.com

Dikutip dari telinga-hati.blogspot.com

Mulailah peduli pada kesehatan telinga kita. Jika terpaksa mengalami keadaan yang sangat bising, setelah itu masuklah ke ruangan yang tenang atau pergilah ke tempat yang menenangkan. Tiadakan seluruh kegiatan bunyi, jika memungkinkan, termasuk musik. Nikmatilah relaksasi tersebut dan izinkan telinga kita mendengarkan detak jantung dan hembusan napas kita sendiri.